Dia berpelukan. Tangan kanannya sibuk merangkul pinggang wanita dengan erat. Wanita itu kini membalas pelukan pria. Tak kalah erat. Bagian depan tubuh mereka kini tengah beradu. Saling tekan satu sama lain.
migration bird
Kehangatan itu mengalahkan dinginnya udara. Tumpukan benda putih di sekeliling mereka tengah meng-cover seluruh warna-warna indah. Tapi ini setting yang pas, untuk momen seperti ini. Burung yang ber-migrasi melambai kearah mereka. Tapi mereka terbenam, di lautan kebahagiaan dalam kehangatan yang nyaman.
Kepala mereka kini terangkat dari kesunyian. Mata mereka bertemu. Ada suatu atmosfer aneh, yang membuat wajah mereka semakin mendekat. Engahan nafas satu sama lain terasa. Debarnya cukup kuat, untuk meletuskan gunung merapi dalam otak mereka. Otak yang penuh gunung gejolak nafsu. Wajah keduanya memerah. Mata mereka kini memberat, menutup, tapi wajah mereka tetap tertarik satu sama lain. Bibir mereka hangat, bertemu, dan membiarkan diri mereka menikmati saat-saat itu.
Brak!
“Kennnnyyyyy!” semua bayangan tadi hilang. Buku melesat, meluncur menuju dinding olive-green pucat. Kenny, tersentak. Tubuhnya terjungkal dari kursinya. Dia jatuh, bersatu dengan kamarnya yang hancur, bersama undershort, jeans, kaos 347, berbagai merchandise, DVD film, buku-buku mulai dari novel, komik, intisari rumus-rumus dan....buku ‘1002 sms Error se-Jawa Barat’ -yang kini berada tepat di bawah kakinya-.
Buku yang baru ia baca, sudah berada di tangan sang Monster Kelamin nomor 1 seantero Karang Pawitan. Dibaca, dan dibuang seketika. Tak tahu kenapa, Kenny memandang ngeri buku yang baru dibelinya dengan sisa uang saku setengah tahun, merasa buku itu menangis. Menjerit-jerit. Histeris. Memang gila, pikirnya. Namun siapa sangka, buku itu mengeluarkan setitik air mata buku yang tak akan pernah bisa dilihat semua makhluk, termasuk buku itu sendiri walau buku itu bukan makhluk.
“Kampret, Lu!” Kenny tak kalah dalam hal membentak membabi buta. Duk! Secepat percepatan gravitasi, buku sudah menempel, merebahkan tubuhnya yang keras di wajah Kenny. Alhasil, wajah merah mantap.
“Sopan dikit napa? Abang lu, nih!” sengitnya, menunjuk dirinya sendiri. Wajahnya sedikit lebih garang dari Kenny, dan lebih tampan tentunya. Struktur badannya proporsional, berotot pula, namun tetap saja. Dia orang gila.
Tak sabar menunggu hingga bedug subuh, dia langsung menggapai kaki Kenny, menyeret Kenny hingga ruang makan. Sinting. Kenny mengaduh-aduh, meronta-ronta, berteriak histeris, tapi saat sepertiga perjalanan menuju ruang tamu, Kenny terpaksa surrender.
Kenny kini bebas seutuhnya. Kakinya tak lagi dicengkeram monster itu. Saat ia berusaha bangkit, dia melihat sebuah tangan menjulur. Seperti peminta-minta. Tapi dia cantik. Bukan meminta-minta, dia hanya ingin membantu Kenny untuk bangkit.
Fabulous! Momen yang sangat tidak pas. Diseret monster dan disaksikan mahluk cantik dari planet venus itu. Wajah Kenny merah mantap. Bukan sakit, tapi malu menjadi sebuah obyek pertunjukan sirkus tingkat gila. Perfect!
“Lama enggak ketemu, Ken.” Buka perempuan itu dengan senyum mengembang. Cantik, dan manis. Kulitnya putih pribumi asli. Rambutnya dilihat-lihat masih persis seperti dulu, rambut Britney style. Badannya ramping sempurna untuk seusianya, dan sedikit tinggi. hampir menyamai Kenny. Mungkin karena dia memakai high heels.
“Marie? Marie Santiago?” tanya Kenny memastikan, dan tak bisa menutupi rasa kagetnya. Mulutnya setengah terbuka. Perempuan itu mengangguk. Benar. Dia adalah Marie Santiago. Teman, sekaligus pengisi hatinya saat masa putih merah. Tapi akhirnya dia dapat merubah air mukanya, kembali seperti yang biasa ia tunjukan saat ia di rumah, terkecuali pada ibunya. Sedikit angkuh, dengan tatapan datar.
“Kenapa?” Marie merasakan ada perubahan raut di wajah Kenny.
“Ga apa-apa. Kapan kamu ke sini?” Kenny berbasa-basi dengan acuh tak acuh, mencoba menghargai kehadiran Marie. Ada perbedaan pemakaian kata untuk perempuan dan laki-laki dalam kamus Kenny. Setolol apapun, seangkuh, sekasar apapun, Kenny tetap menghargai perempuan. Tapi dia memang tolol, dalam artian tertentu.
“Kemarin sore. Aku ke sini mau main aja. Udah lama ga liat kamu. Kamu tambah...keren.”senyum meledek menempel di mukanya yang cantik. Sudah lama Kenny rindu wajah itu. Tapi, Mari bertambah cantik. Dulu dia biasa saja. Tapi, ya begitulah pikirnya.
“aku udah engga kayak dulu.” Timpal Kenny datar. Dia bergegas menuju kulkas. Tepat beberapa meter ke arah tenggara tempat ia berdiri. Kulkas itu besar, dengan dua pintu. Warnanya yang mewah membuatnya begitu menyatu dengan segala benda yang tertata rapi, dalam ruang makan yang didesain dengan nuansa Italian Home.
Dia membuka pintu kulkas bagian bawah, dan merogoh sesuatu. Tak lama ia berbalik. Kini ia menggenggam Susu Ultra rasa Strawberry favorit Marie.
“Nih. Kamu haus ga? Kalo engga, aku balikin.”
“Makasih. Kamu ko inget aku suka minum ini?”
“Just my feeling.” Katanya datar. “Ayo, kalo mau duduk. Aku ga yakin kamu kuat berdiri lama-lama.” Seraya berjalan, Kenny tersenyum. Untung saja dia memunggungi Marie. Jadi Marie tak bisa melihat kebahagiaan Kenny. Kenny sangat senang. Sangat. Tapi monster membuat semuanya...kacau. Dia kini tengah berdiri kokoh, memegang segelas Susu Ultra Full Cream hambar di tangan kanannya. Ia teguk sedikit sebelumnya, dan kembali memandang dua bocah yang berjalan ke arahnya.
“Heh, bocah. Ngapain lu senyum-senyum sendiri. Sambil jalan lagi. Ooo, gua tau. Mentang-mentang mantan cewenya dateng.” Sindir monster. Dia tengah memantik api peperangan kedua pagi ini.
“Berisik lu, Shimonster.” Timpal Kenny pada kakaknya.
“Nama gua Shimon, Kenniak.” sengit kakaknya. Shimon. Itulah nama sang Monster Kelamin nomor 1 seantero Karang Pawitan.
“Oooh, Ketek. Lucu banget sih, Monster...ketawa ga ya...?” dengan gaya yang menghina. Dia tetap jalan. Lurus. Menuju kursi yang hanya berjarak kurang lebih 10 meter lagi. Marie tertawa kecil melihat kelakuan keduanya. Sudah lama Marie tak melihat aktivitas langka seperti ini sejak 7 tahun lalu.
Ruang keluarga. Di rumah ini ruang keluarga terasa nyaman. Walau tak ada perapian, ruang keluarga memancarkan aura hangat dan kenyamanan yang luar biasa. Mungkin karena arsitekturnya yang bernuansa yunani ini dapat memanjakan indera penglihatan. Salah satu pendukungnya lagi, yakni penataan furniture yang rapi dan tertata rapi mengikuti arsitekturnya.
Dengan satu pencetan tombol dari remote yang Kenny genggam, dentuman musik Bad Romance dari Lady Gaga menggetarkan seisi ruangan. Ruangan itu kini terlihat salah kostum. Saat berbalik badan dari arah pandangan menuju Sound System, dengan cepat dan lugas Marie mencuri remote itu dan menekan lagi tombol tadi, hingga lagu Rock Show-nya Lady Gaga menggantikan lagu sebelumnya, untuk menggemakan isi ruangan. Ia tekan lagi, Unfaithful milik Rihanna mengalun, membuat sisi ruangan aman dari dentuman not balok yang sedari tadi menabrak-nabrak, hingga semua furniture berjingkat aneh memudar. Namun nuansa musik itu begitu miris, kelabu akan cinta. Seperti yang kini langung Kenny rasakan.
“kenapa kamu kayak yang setengah acuh sama aku?” tanyanya sedikit miris. Marie yang bertanya. Kepada Kenny tentunya. Tak ada siapapun kecuali sepasang insan, yang telah lapuk dalam kurun waktu 7 tahun. Menyesali waktu, selama ribuan jam, jutaan detikan jarum jam, serta trilyunan bulir pasir.
“engga, cuma perasaan kamu aja kali. Memang gini kan sifat aku?” bantahnya
“kamu masih benci ama aku?” kini lagu Unfaithful begitu menusuk-nusuk suasana. Semakin kelabu.
Kelebatan peristiwa-peristiwa yang sudah lama terkunci rapat, terbelenggu untuk tidak memberontak, memuntahkan diri keluar belenggu, kini terbebas juga. Perasaan sakit itu muncul lagi. Kenny kini lebih tersiksa, dari Marie, yang kini sudah memuntahkan setitik air matanya. Karena masa lalu. Semu itu karena masa lalu yang...tak bisa ia rubah. Tentang apa yang ia sesali, ia benci dan ia muak.
“kita masih SD waktu itu. Udah lupain aja. Toh, aku ga keberatan kamu sama dia. Sampe sekarang masih langgeng, kupikir.” Jawabnya, menahan segala luapan emosi. Emosinya sudah ia latih selama bertahun-tahun belakangan ini. Untuk bisa menahan kemarahan, untuk tidak meneteskan air mata, untuk tidak memperlihatkan emosi apapun. Pada semua orang, termasuk keluarganya. Juga sang Monster Kelamin nomor 1 seantero Karang Pawitan.
“aku...putus.” memecah keheningan, suara itu bergetar pelan, menyeruak dari balik bibir Marie yang mungil.
Lagu berganti. I Think I Love You, salah satu soundtrack drama Korea Full House kini mengalun. Menciptakan atmosfer baru di ruangan itu. Kenny tersentak. Tapi tak terlihat oleh siapapun, karena ia sangat pandai mengatur emosinya. Hatinya senang, hanya saja ia berfikir ini mungkin hanya sesaat. Tatapannya berubah sinis. Ia menatap tajam ke arah Marie. Memandangnya, memburu setiap kedipan yang terihat.
“lalu?” dengan ini, Kenny baru saja menembus dada Marie dengan sebuah kata tanya dengan nadanya yang mencemooh, begitu menyakitkan. “oooh, jadi kamu ke sini cuma mau ngasih tau aku, kalo kamu...putus?” penekanan pada kata putus makin membuat Marie hancur. Ditambah pandangan dan nada bicara Kenny yang semakin mencemoohnya, Marie sangat kehilangan akal.
“kamu kira aku seneng dengan semua berita yang sangat baik ini? Kamu ngomong sama orang yang salah. Sangat salah!” Kenny telah selesai dan menutup rapat bibirnya, agar perkataan yang semakin fatal tidak menyeruak dari balik bibirnya itu.
Wajah cantik itu telah kusut. Wajah mulusnya berubah drastis. Merah padam, tergenang air mata pula. Matanya pun merah. Marie berbalik, dan berusaha menyisakan sedikit tenaga untuk menggerakkan bibir.
“nanti...a-aku bakal...main lagi kesini. Bye...” getaran itu berdengung jelas di telinga Kenny. Terdengar jelas, walau musik RnB begitu kentara berdentum. Tapi, Kenny pun sadar, bahwa dirinya pun sama hancurnya.
Malam begitu sunyi. Ditambah hatinya yang hancur. Temannya hanyalah kamar dan isinya, serta Blackberry Curve yang setia menemaninya. Memandang setiap sudut ruangan, dan selewat menembus jendela. Di luar jendela, burung hantu beruhu-uhu. Tapi tetap tak menghiburnya yang masih menatap ke luar jendela. Bulan hanya terlihat separuh, sisanya mungkin ditelan langit, dan akan dimuntahkan seluruhnya saat tanggal muda tiba. Ia beralih meraih gitar akustik favoritnya. Mulai memetik dawai-dawainya, memulai untuk mengurangi rasa bersalahnya. Lagu yang pernah ia ciptakan untuk memenuhi tugas Kesenian. Dengan jendela yang terbuka, angin yang menyambutnya, dia membuat kata-kata yang sudah tersusun mengalun indah, melompat-lompat keluar dari bibirnya.
Andai kau sebaik itu
Semua mungkin tak salah
kita bersama sekarang
Tanpa waktu yang ingkar janji
Namun, waktu memanglah kejam
Kita dicelahkan dan terbatas
Hingga kita tak lagi harmoni
Dalam simfoni kebahagiaan
Sungguh itu bukan maksudku
Lukai dan berikanmu hancur
Tapi aku mungkin lelah
Dengan waktu yang lupa diri
Ku pikir kita mungkin bisa
Tapi mungkin pula terlambat
Biarkan waktu meminta maaf
Dan buat kita kembali
Sekian lama emosinya terbendung, Kenny menyerah untuk kali ini. Wajahnya sedari tadi terus digenangi air matanya, yang telah turun dengan ganas. Ia menyanyi dengan getir, sebenarnya. Malam itu, malam senin. Besok waktunya memulai semester genap, sekaligus akhir masa putih abu-abunya. Tak apa malam ini dia menangis. Membiarkan waktu yang meronta, meminta maaf kepadanya.
BRAK! Pintu terbanting keras, itu tandanya Shimonster memenuhi tugasnya membangunkan Kenny. Nyawa Kenny yang masih melayang-layang ditinju oleh aura ganas Shimon. Shimon mendekat, sedikit tergesa-gesa menuju Kenny yang masih terbaring mengantuk. Mencoba menarik seluruh kelopak matanya, namun Kenny masih lemas, juga setengah sadar. Ada yang lain, kakaknya biasanya tak seperti ini dia bisa melihatnya walau pandangannya berbayang, menggandakan segala benda yang ada di ruangan itu. Wajah Shimon merah padam. Seperti marah telah dipeloroti celananya pada pesta piyama. Namun lebih garang.
“lu apain si Marie? Lu apain?” geramannya yang tajam, membuat Kenny mau tak mau menguatkan diri mengangkat badannya untuk bangun dari kasur yang nyaman.
“gua...” tak sempat ia bicara, Shimon langsung meremas kerah kaos 347 hijau tua favorit Kenny keras-keras. Mengangkat tubuh Kenny dengan tangan masih menempel pada kerah leher adiknya, untuk memberikannya sedikit pelajaran. Tapi niat itu di urungkan. Dilepaskan genggamannya, hingga tubuh Kenny bebas dan terjerembab di kasurnya lagi.
“Sorry, ga usah dipikirin. Lu ga akan bisa ngerti karena lu ga mungkin tau...” Shimon berbalik dan bergegas keluar ruangan. Mungkin kakaknya benar. Dia mungkin ga akan bisa ngerti. Dan ga akan tahu apapun. Tapi, Kenny tak peduli.
SMAN 1 Karawang. SMA Negeri RSBI pertama di Kota Karawang. Bangunan tak terlalu megah, namun kualitas siswa sangat megah.
“Stop! Mana SIM kamu?” petugas keamanan ini memang sangat terlaten dalam menangani soal seperti ini. Siapa yang tidak membawa SIM dilarang keras parkir di wilayah SMA yang kerap di panggil SMANSA ini.
“Pak, kan bapak udah tau saya punya SIM...” jawab Kenny, dengan tatapan memohon.
“Ga bisa! Mana, kasih liat SIM-nya!”
“Ugh, ribet amat udah tau juga. Nih, pak.” SIM berfotokan Kenny diperlihatkan. Dan dia boleh masuk.
Ia langsung melesat, mengambil tempat parkir strategis. Helm INK Maroon Red-nya ia bawa. Tak mau ambil risiko merelakannya dicuri orang lain. Itu Helm Favoritnya, yang terkumpul dari uang saku yang ia sisakan sepanjang liburan.
Ia sekarang meggiring tubuhnya dengan semangat Rambo, menuju kelas tempatnya bertapa selama satu setengah tahun belakangan setelah penjurusan akan bertapa di kelas IPA atau IPS. Kelas yang cocok untuknya sebagai orang yang tidak berguna. Langkahnya dipercepat. Ia melintasi pintu resepsionis, sekilas melirik papan bertuliskan:
Teachers and Visitors Only
Mood-nya berubah. Sedikit terusik dengan keberadaan papan itu. Tapi dia lebih memilih bergegas dari tempat itu. Kembali ke tujuan utama, Rumah Kedua.
Hari Senin, rutin di seluruh sekolah di Inonesia mengadakan Upacara. Begitu juga SMANSA. Jadi, hari Senin wajib upacara. Makin dipercepat langkahnya, setengah berlari sambil menggenggam kait Helm-nya, agar tak terlambat bersiap diri untuk Upacara Bendera. Ia kembali melewati gerbang masuk sekaligus tempat pengecekan kendaraan bermotor tadi.
Dari situ, lapangan basket serta kantin dapat terlihat jelas. Kolam ikan pun terlihat di bawah pohon mangga yang sedikit besar, yang juga di sebelahnya terdapat pohon beringin rindang bertugu. Tempat yang masih belum banyak ter-renovasi hanyalah tempat-tempat itu. Tapi itulah yang menyenangkan, dari bersantai di tempat-tempat tersebut di jam-jam yang kosong serta waktu istirahat.
Semakin banyak siswa yang datang, motor-motor di depan pos pemeriksaan semakin mengantri. Suara klakson tan-tin-tan-tin merobek telinga, yang sedari tadi penuh berbagai suara kendaraan bermotor serta bla dan bla pembicaraan orang. Makin pusing dia. Padahal masih pagi, tapi ingin rasanya ia cepat pulang.
“Happy Birthday!” Semua anggota keluarga 12 IPA 5 sudah berkumpul rupanya. Kenny terperanjat ke belakang. Kaget. Menerima surprise yang seharusnya tidak pernah diterima oleh orang tak berguna seperti dirinya.
Kue ulang tahun kecil, mungil, sweet moccacino berlilinkan angka 17 terlihat begitu manis. Kualitas seperti itu pastilah kualitas Famansa Cakes, tempat membeli macam-macam tart cake berkualitas dan nikmat, serta dapat menikmati pemandangan yang dapat memanjakan indera penglihatan kaum Adam. SPG-nya yang cantik dan memakai thight uniform warna putih, plus rok di atas lutut. Sama ketatnya.
“Guys...kenapa harus surprise? Gua kan bukan apa-apanya kalian...gua ga berarti buat kalian...” nada yang tak mungkin bisa dibayangkan oleh keluarganya dan juga Marie keluar dari bibir Kenny. Di dalam kelas, di keluarganya yang kedua, Kenny merupakan pemuda yang lembut. Tapi terkadang, dia tetap gila.
“lu kan ketua geng, so...this just a little surprise from us...” dengan senyum merekah, semua anggota jajaran geng 12 IPA 5 begitu menghargai Kenny, yang telah menjadi Ketua bagi mereka. Tapi itu mungkin hanya motif lain. Kenny yakin, ini cara agar penderitaannya di kelas dianggap impas. Kadang ia tersiksa di tempat itu. Tapi, whatever.
“Buruan make a wish, dong...!” seru Shishi, anggota Cheerleaders SMANSA yang hobinya Dance. Rambutnya yang panjang bergelombang se-punggung dan wajahnya yang cantik eksentrik membuatnya dapat langsung terlihat. Berdiri berjingkat, karena tinggi badannya yang kurang dari tinggi badan Lino yang juga besar proporsional. Shishi terlihat di dekat papan tulis.
Kenny melangkah mendekti kue ulang tahunnya, yang mungil, memejamkan mata dan berharap. Membuat harapan dari umurnya yang menginjak masa-masa manis. Sweet Seventeen.
Semoga hubungan gua sama Marie bisa balik lagi kayak pertama gua ketemu.
Kenny membuka kembali matanya. Memandang kue itu lekat-lekat. Lilin berangka 17 tengh meleleh perlahan, menjadi cair karena api mungil yang berpijar di sumbunya. Kenny meniup api yang berpijar pada lilin, kemudian tepukan tangan riuh membangunkan dirinya dari keheningan sesaat. Mereka yang berbahagia karenanya bergegas menghampiri Kenny, menyalaminya dan berikan ucapan selamat.
Morning sunshine in our room
Now that room is back ini tune
Autumn start this day with a smile
And laugh at my beautiful love one
Who’s laying besides me
You so far away in your sleep
Who can tellwhat dream you may dream
You dont know that i was drawing
With my finger on my sweet young face
Vague as a meaning words
You make my world so colorful
I never had it so good
My love i thank you for all the love
You gave to me
You make my world so colorful
I never had it so good
My love i thank you for all the love
You gave to me
You Make My World So Colorful mengalun lembut dari atas ruangan. Suara itu berasal dari speaker yang terdapat di setiap kelas. Tepatnya di sebelah proyektor. Lagu dari Daniel Sahuleka ini begitu lembut. Menghiasi setiap senyum, canda dan tawa pagi itu. Mereka berbagi suka di dalam ruang kelas, tempat mereka menyatukan hati mereka, dalam kurun waktu dua tahun bersama. Kisah mereka di sekolah ini mungkin akan terhenti. Tapi itu tak menutup hati mereka. Untuk selalu mengenang saat ini. Di kelas ini. Dengan gorden peach orange membuat cahaya lampu pijar menguning, menambah suasana kelas menjadi hangat.
Foto mereka saat bersama, tergantung di dinding, sebelah meja guru. Bersanding dengan kalendar dan peta Kabupaten Karawang. Meja guru, berwarna coklat dan vas bunga mungil indah ikut menghiasi ruangan. Juga lemari kaca. Di dalamnya berisi miniatur kura-kura hijau. Semua, baik furniture maupun anggota keluarga kedua, menghabiskan sepanjang waktu, sebelum upacara pagi itu, dengan canda, dengan tawa, suka cita, dan kebahagiaan yang sangat. Sangat akan dirindukan.
Pelajaran Kimia, favorit kelas mereka. Mereka telah siap menelan segala yang akan seorang nenek berikan. Nenek yang merupakan guru paling berarti seantero SMANSA. Bahasanya yang gaul, namun tegas dan lucu membuatnya menjadi teladan bagi setiap siswa. Guru. Sedikit kasar mungkin. Tapi efektif. Selain itu, guru yang dipanggil Oma Ira ini punya pendirian yang kuat, dan berpandangan luas. Walaupun sedikit egois, namun tak jadi soal. Semua menghormatinya. Dia telah membuka pintu yang terletak di timur laut tempat Kenny duduk.
“Assalamualaikum!” seru-nya kepada seluruh makhluk penghuni kelas itu. “kita ada murid pindahan dari Bandung,” tambahnya. “KM jelek! Mana tuh orang jelek?”
“hadir, Bu! Selalu!” jawab Kenny.
“suruh temen sebelah lu pindah. Murid ini pinter. Gua yakin dia bisa ngajarin lu yang payah. Daripada lu duduk ama cowo yang bibirnya harus diberi.” Perintah Oma Ira, sambil menunjukka kepalan tangannya kepada teman Kenny, berbadah tinggi, berbibir ganda. Berlipat tepatnya.
Akhirnya Qariz harus menurut untuk pindah, duduk dengan Dhilan, cowo yang sedari semester satu duduk sendiri. Sebelumnya, total murid 47. Dan kini bertambah satu. Kelas ini kelas IPA termakmur dengan jumlah siswa yang membludak, sepanjang sejarah SMANSA.
“eh, cewe jelek, masuk sini! Bentar lagi gua mau kasih ulangan.” Perintah Oma. Mata Kenny melebar, namun ekspesinya datar. Kenny sudah mengenalnya, jauh sebelum ruangan itu menjadi riuh karena kedatangan Marie, yang menjadi sang murid pindahan.
Senyum Marie merekah. Terdengar bla dan bla sana-sini mengenai Marie, entah dia berasal dari Bandung, entah dia cantik, semampai, bidadari pribumi, dan macam-macam chit-chat anak SMA seputar hebatnya semua kaum Hawa yang berasal dari Bandung. Terutama anak laki-laki. De javu. Pemandangan ini terulang, sama seperti dulu.
“hai, nama saya Marie. Saya dari SMA 17 Bandung. Seneng bisa kenal sama kalian.” Perkenalan Marie ternyata hanya cukup sampai di situ. Wajah Oma kini berubah sedikit tak sabar menyiksa Kenny dan semua anak buahnya dengan beberapa amunisi yang sudah nenek itu siapkan.
“Enough! That’s enough! Gua mau ulangan, jadi langsung sana lu duduk sama KM bego di ujung sana. Cepet!” bentak Oma Ira. Marie langsung terbirit-birit. Bukannya muram dibentak oleh Oma, tapi ia senang bisa duduk dengan Kenny. Seisi kelas--kecuali Kenny-- bersuit-suit kepada Marie, namun Marie tak peduli. Dia lebih peduli tentang hatinya yang begitu senang duduk di sebelah Kenny.
Bel istirahat telah berteriak sejak lima menit lalu. Kenny duduk di anak tangga, tangga sebelah kelasnya. Tangga untuk naik ke lantai atas, tempat anak kelas sepuluh. Marie berjalan perlahan, menuju Kenny yang sedang tertunduk, agar Kenny tidak menyadari kedatangan dirinya. Tapi itu sia-sia baru beberapa langkah Kenny sudah menyadari Marie yang sedang menuju tempatnya sekarang.
“Kenapa kamu milih kelas aku?” tanya Kenny. Nadanya datar, kepalanya pun masih tertunduk. Ia mengetahui itu Marie dari parfum yang Marie pakai. Karena kemarin pagi pun Marie memakainya, saat mereka bertengkar. “masih banyak kan kelas lain yang ga sepenuh kelas aku?”
“Ternyata kamu KM ya...aku ga nyangka kamu bisa jadi seorang panutan kelas.”
“Itu ga ngejawab pertanyaan aku, Marie Santiago.” Kenny mulai gerah dengan segala yang Marie berikan hari ini. Tapi Marie sudah terbiasa. Wajah Marie masih secerah tadi.
“Dan kamu ternyata baik, sama seprti tujuh tahun lalu, dan perhatian. Ga seperti di keluargamu, kepada kakakmu. Dan sikap kamu ke aku juga kemarin.” lanjut Marie seolah tak perduli dengan pertanyaan Kenny. Kenny bangun dari tempatnya. Wajahnya datar, selalu seperti itu untuk Marie.
“itu bukan urusan kamu. Kamu ga bakal kenal aku kayak dulu lagi, dan aku juga udah ga mau tau apa aja tentang kamu. Udah 5 tahun, dan semuanya udah berubah. Dan aku udah ga peduli sama semuanya sekarang.”
“oh ya?” tantang Marie.
“ya.” Jawab Kenny mantap.
“lalu, kenapa kalung yang aku kasih ke kamu 7 tahun lalu masih kamu pake?” tanya Marie, merasa menang.
“kamu mau minta ini balik?” Kenny melepaskan kalungnya, kalung manik-manik yang dibuat sekenanya, dan sudah hampir putus. Mungkin karena talinya yang terbuat dari benang wool yang digunakan untuk merajut sudah habis masa layaknya. Di kalung itu dipasang bandul tengkorak hitam mungil. Sudah keropos, sedikit memudar warna hitamnya.
“ga usah, itu udah jadi milik kamu dari 7 tahun lalu.” Marie masih tersenyum. “aku mau ngasih ini, kalo kamu masih ngehargain cewe, kamu terima ini ya.” Marie memberikan sebuah kotak mungil dark chocolate berpita bright gold. Kenny menerimanya, hanya untuk menghargai pemberian seorang wanita. “happy sweetseventeen...” tambah Marie, tersenyum dan berbalik, yang kemudian melangkah menuju kelas. Kenny hanya tertegun sepanjang saat itu.
“Ken, dari siapa tuh?” Kenny masih terdiam, membeku dengan pandangan yang melekat pada kotak pemberian Marie. Padahal dari tadi Lino menanyainya. Sudah berulang kali malah. Tapi tetap saja Kenny seolah sudah tidak memiliki lagi jiwa dalam jasadnya. “woy!”
Setelah tangan Lino menepuk kening Kenny, barulah ia tersadar, tengah makan di tempat makan di tempat makanan siap saji bersama 3 orang temannya, 3 idiot SMANSA. Makanan yang ia pesan masih belum tersentuh, padahal makanan itu sudah berdiam di tempatnya, tepat di depan wajah Kenny sejak sepuluh menit lalu.
“ups, sorry. Apaan, No?” tanya Kenny, rasanya seperti dibangunkan dari mimpi panjang. Dia memandang ketiga temannya, yang sekarang, berwajah khawatir. Bertanya-tanya ada apa dengan bocah yang baru akil balig itu.
“lu kenapa sih, Ken?” Lino mulai angkat bicara lagi. Laki-laki bertubuh besar dan tingginya yang melebihi Kenny empat sentimeter inikhawatir dengan sikap temannya yang tidak biasa ini. Pipinya yang sedikit chubby dan hidungnya yang juga sedikit besar, menjadi tak karuan dengan mimikny yang sekarang. Namun dia yang paling punya aura percaya diri diantara mereka berempat. “terus, itu dari siapa?” tambahnya.
“gua...gua aneh ya?” Kenny balik meminta pendapat.
“banget. Gua aja bingung di depan gua sekarang Kenny apa bukan.” Kali ini bukan Lino yang berkomentar, namun Dagri. Saat kelas sepuluh, Dagri memang lebih tinggi dari Kenny. Namun Kenny lebih tinggi beberapa senti darinya sekarang.
“gua...gua Cuma lagi galau, cuy..” jawab Kenny sekenanya, sambil tersenyum yang dipaksakan.
Perhatian kepada seluruh pengunjung Mal Karawang, bagi yang bernama Kenny Deranjaro Porta, dari SMA Negeri 1 Karawang, diharapkan menuju Zone2000. Keluarga sedang menunggu. Silahkan kembali pada kegiatan anda kembali, terima kasih.
Kenny terlonjak dari tempat duduknya. Apalagi yang akan ia dapat hari ini? Begitu banyak hal yang terjadi hanya dalam waktu beberapa jam.
“Ken, nama lu disebut tuh!” Mirham setengah berteriak. Girang sekali Mirham, anggota terakhir 3 Idiot SMANSA. Panggilannya Shrek karena badannya yang tinggi besar juga sedikit gelap. Namun wajahnya eksentrik.
“apaan lagi coba yang gua bakal dapet hari ini?” gerutu Kenny, meratapi dirinya, yang sudah kenyang dengan segala surprise yang ia dapat hari ini.
“mau kita temenin ga?” tawaran itu diajukan oleh Lino.
“boleh, langsung aja yuk! Gua udah males lama-lama keluyuran. Nanti gua tambah sial lagi kalo lama-lama di luar rumah.”
Mereka berempat telah beranjak, meninggalkan tempat mereka, melewati sebuah pintu kaca, yang disebelahnya berdiri patung kakek tua bertongkat dan sudah ubanan memakai jas putih sedang tersenyum ke segala arah.
Tinggal menaiki satu buah eskalator lagi, Zone2000. Kenapa harus tempat itu? Entahlah, Kenny pun merasa tersentil. Tiga orang temannya mengikuti, berharap-harap cemas sesuatu yang buruk akan terciprat pada diri mereka. Sudah di tangga terakhir sebelum sampai tujuan. Namun sekilas dalam otaknya, Kenny merasakan sesuatu yang buruk. Melesat begitu saja, perasaan yang makin memuncak, sadar akan ada bahaya. Ia membalikan badannya, berteriak pada ketiga temannya.
“guys! Lu pada harus pergi! Gua punya firasat engga enak!”
“emang kenapa?” Shrek ikut-ikutan berteriak. Semua pandangan tajam mengarah pada keempat orang itu. Merasa terganggu dengan kegaduhan tersebut mungkin.
“gua ga tau, mending kalian tunggu di bawah aja deh! Buruan balik turun sekarang!” Mengejar waktu yang semakin memburu, Kenny melesat menaiki tangga eskalator yang tengah berjalan, bergegas sebelum firasatnya benar-benar terjadi. Sedangkan ketiga temannya pun berbalik dan melesat melawan arah tangga eskalator, untuk menuruninya.
Sampai. Zone2000 sudah terlihat. Kenny, melihat mahluk venus yang cantik sedang berdiri, menunggu kedatangan seorang Kenny yang begitu membenci dirinya. Mungkin, memang sudah saatnya Kenny memperbaiki seluruh hubungan buruknya, semua yang sudah ia telan 5 tahun ini, untuk bersikap baik, dan memujanya seperti dulu.
Pandangan mereka bertemu. Kini, Kenny memaksakan bibirnya untuk sedikit merekah. Wajahnya yang biasa datar untuk diri Marie Santiago, akan ia rubah sejak sekarang. Dan tugas pertama yang akan ia laksanakan, meminta maaf pada wanita manis itu. Marie tak menyangka wajah itu akan bersinar lagi kepadanya. Ia pun memberikan senyuman termanis yang pernah ia miliki. Wajahnya merah merona kini.
Marie dapat melihat kotak pemberiannya tergenggam oleh tangan kokoh Kenny, di sebelah kanan. Ia senang, dan menyadari mungkin Kenny akan menerimanya lagi, seperti sebelum saat itu. Muncul lagi, ketegangan yang sangat kentara. Sesuatu yang buruk tengah memburunya.
Bersama dentuman yang dahsyat ia merasakan dirinya terhempas menjauhi Marie. Kepulan asap melesat dengan cepat, menutupi seluruh permukaan lantai 2 itu. Tak terlihat apa-apa lagi disana, hanya kepulan asap yang menutupi segala sesuatunya yang mungkin saja hancur.
Seluruh tubuhnya terasa remuk dan panas. Kenny tak dapat berbuat apa-apa, walaupun itu hanya menjentikan seujung jarinya. Udara berpasir menghalangi pandangannya. Tubuhnya mengeluarkan banyak darah, ia tahu itu. Saat dirinya terhempas, ia menubruk-nubruk benda padat yang entah apakah itu. Ia tergeletak tak berdaya bersama orang-orang yang sudah tak memiliki jiwa.
Dari hidung, telinga, dan kepalanya yang terbentur keras mengalir darah segar yang hangat. Kesadarannya semakin memudar. Namun ia teringat gadis cantik yang menunggunya. Marie. Bagaimana keadaannya saat ini, Kenny tak tahu. Dia berdoa pada Tuhan;
Tuhan, aku belum minta maaf pada Marie. Aku ingin dia tahu, aku memang bener-bener cinta sama dia, walau belakangan ini sikapku kasar. Sungguh, aku ingin waktu memperbaikinya, melalui apapun yang bisa membantu waktu memperbaikinya. Mungkin waktuku sampai disini. Terima kasih Tuhan, kau telah menciptakan waktu, yang walaupun begitu kejam, telah mempertemukanku dengannya 5 tahun silam. Kumohon, kepada waktu untuk memperbaiki segalanya.
Kenny sudah tak sadarkan diri. Tergeletak bersama darahnya yang masih mengalir. Bersama segala sesuatu yang telah hancur karena ledakan bom bunuh diri. Lantai 2 Mal Karawang hancur total. Tak lama, 3 orang temannya berteriak histeris. Suara ketiganya menyayat setiap telinga yang mendengarnya. Tapi Kenny tak mendengarnya. Jiwanya sedang berkelana, dan sang waktu menemaninya.
888
Tahun 2004 sudah menginjak masa tengahnya. Bulan Mei yang hangat baru saja menyambut Kenny, yang kini sedang melangkah memasuki kelas. Semuanya riuh. Hilir mudik bocah-bocah kelas 5 SD dalam kelasnya, berlarian dan berseru-seru dengan kentara. kegaduhan Pasar ikan pun kalah oleh paduan suara berbagai jenis bocah yang rata-rata berumur sepuluh hingga sebelas tahun itu.
Lonceng berteriak, tanda dimulainya waktu untuk memperoleh berbagai ilmu baru. Ibu guru setengah baya itu masuk, menggenggam pergelangan tangan seorang gadis kecil yang manis, di tangan kanannya. Sedangkan tangan satunya menenteng sebuah tas Sophie Martin hitam pudar yang mengembang, mungkin akibat isinya yang membludak.
888
“anak-anak, kalian dapat teman baru. Dia dari Bandung” jelas Bu guru.
“Bu, pelajaran Kesenian sekarang kan?” tanya Kenny.
“kaga, tahun depan! Hahahahahaha...” suara tawa menabrak-nabrak dinding kelas yang kini bergetar karena kegaduhan.
“hai, nama aku Marie. Marie Santiago.” jelas gadis manis itu.
“siapa yang mau duduk sama-sama Marie?” tanya bu guru menggugah semangat. Seluruh anak laki-laki mngangkat jari telunjuk mereka tinggi-tinggi. Tak mau kalah, beberapa anak menaiki kursi mereka sambil tetap mengangkat jari. Hanya Kenny yang tidak tertarik. Dia lebih suka mencorat-coret halaman bukunya yang paling belakan, serta sesekali memandang ke luar kelas.
“kamu duduk sama Kenny, ya. Yang di sana tuh. Dia lagi bengong melihat ke arah pintu. Ya?” pinta bu guru pada Marie, yang memang sedari tadi mengagumi Kenny. Ketika orang lain menginginkan gadis mungil itu untuk duduk dengannya, Marie melihatnya yang tak begitu peduli. Membuatnya berfikir Kenny itu spesial.
“ya, Bu.” Marie mengangguk, kemudian tersenyum pada wanita pekerja keras itu. Kerutan di wajahnya terlihat, membuatnya terlihat sangat lelah dalam menjalani kewajibannya. Namun senyum wanita tua itu hangat, penuh kasih sayang.
Marie bergegas menuju tempat Kenny, tempat yang akan menjadi tempatnya pula untuk beberapa bulan kedepan. Sebelum dia kembali ke Bandung lagi, bersama ayahnya yang kini sedang mengurus proses perceraian. Ia ke Karawang karenya pesan kedua orang tuanya, memintanya tinggal dengan tantenya agar kedua orang tuanya bisa menyelesaikan peekerjaan rumah tangga mereka. Marie tak pernah tahu kalau orang tuanya akan bercerai. Yang ia tahu, orang tuanya kurang rukun.
“hai, aku Marie.” suara lembutnya mengaketkan lamunan Kenny. Kenny spontan, dengan cepat menolehkan wajahnya ke belakang. Wajah mereka hampir bertabrakan. Hanya berjarak 2 senti sekarang. Seluruh wajah menghadap mereka berdua, seluruh siswa, baik perempuan maupun laki-laki bersuit-suit, kembali menciptakan kegaduhan sesaat.
Selama dua bulan mereka sudah saling mengenal dengan baik satu sama lain. Sangat baik. Mengetahui makanan favorit, tempat impian, lagu, buku cerita, film favorit mereka. Kenny lebih bersemangat untuk bersekolah sejak itu. Marie yang begitu baik dan pengertian membuatnya berubah dari sifatnya yang pendiam, muram dan sukar berkomunikasi dengan orang lain. Semua temannya pun kini tidak sungkan dan mengurangi ejekan mereka pada Kenny, karena mereka sudah mengetahui bahwa Kenny ternyata sangat baik.
Mereka berdua duduk di bawah pohon jambu air besar yang rindang, dimana banyak sepeda berjejer tak beraturan menemani mereka. Marie mengajak Kenny berfoto dengan kamera Handphone Nokia 6600-nya. Mereka berfoto. Manis sekali hasil potretan itu.