Thanks for open this :P welcome to my blog :D

All About I wanna Write

Jumat, 07 Oktober 2011

Sahabat

Bagiku arti persahabatan adalah teman bermain dan bergembira. Aku juga sering berdebat saat berbeda pendapat. Anehnya, semakin besar perbedaan itu, aku semakin suka. Aku belajar banyak hal. Tapi ada suatu kisah yang membuat aku berpendapat berbeda tentang arti persahabatan. Saat itu, papa mamaku berlibur ke Bali dan aku sendirian menjaga rumah...

“Hahahahaha!” aku tertawa sambil membaca.

“Beni! Katanya mau cari referensi tugas kimia, malah baca komik. Ini aku menemukan buku dari rak sebelah, mau pinjam atau tidak? Kamu bawa kartu kan? Pokoknya besok kamis, semua tugas kelompok pasti selesai. Asal kita kerjakan malam ini. Yuhuuuu... setelah itu bebas tugas. PlayStation!” jelas Judi dengan nada nyaring.

Judi orang yang simpel, punya banyak akal, tapi banyak juga yang gagal, hehehe.. Dari kelas 1 SMA sampai sekarang duduk di kelas 2 - aku sering sekelompok, beda lagi kalau masalah bermain PlayStation – Judi jagoannya. Rasanya seperti dia sudah tau apa yang bakal terjadi di permainan itu. Tapi entah kenapa, sekalipun sebenarnya aku kurang suka main PlayStation, gara-gara Judi, aku jadi ikut-ikutan suka main game.

Sahabatku yang kedua adalah Bang Jon, nama sebenarnya Jonathan. Bang Jon pemberani, badannya besar karena sehari bisa makan lima sampai enam kali. Sebentar lagi dia pasti datang - nah, sudah kuduga dia datang kesini.

“Kamu gak malu pakai kacamata hitam itu?” Tanyaku pada Bang Jon yang baru masuk ke perpustakaan. Sudah empat hari ini dia sakit mata, tapi tadi pagi rasanya dia sudah sembuh. Tapi kacamata hitamnya masih dipakai. Aku heran, orang ini benar-benar kelewat pede. Aku semakin merasa unik dikelilingi dua sahabat yang over dosis pada berbagai hal.

Kami pulang bersama berjalan kaki, rumah kami dekat dengan sekolah, Bang Jon dan Judi juga teman satu komplek perumahan. Saat pulang dari sekolah terjadi sesuatu.

Kataku dalam hati sambil lihat dari kejauhan “( Eh, itu... )”.
“Aku sangat kenal dengan rumahku sendiri...” aku mulai ketakutan saat seseorang asing bermobil terlihat masuk rumahku diam-diam. Karena semakin ketakutannya, aku tidak berani pulang kerumah.
“Ohh iya itu!” Judi dan Bang Jon setuju dengan ku. Judi melihatku seksama, ia tahu kalau aku takut berkelahi. Aku melihat Judi seperti sedang berpikir tentangku dan merencanakan sesuatu.
“Oke, Beni – kamu pergi segera beritahu satpam sekarang, Aku dan Bang Jon akan pergoki mereka lewat depan dan teriak .. maling... pasti tetangga keluar semua” bisikan Judi terdengar membuatku semakin ketakutan tak berbentuk.

Karena semakin ketakutan, terasa seperti sesak sekali bernafas, tidak bisa terucapkan kata apapun dari mulut. “...Beni, ayo...satpam” Judi membisiku sekali lagi.

Aku segera lari ke pos satpam yang ada diujung jalan dekat gapura - tidak terpikirkan lagi dengan apa yang terjadi dengan dua sahabatku. Pak Satpam panik mendengar ceritaku – ia segera memberitahu petugas lainnya untuk segera datang menangkap maling dirumahku. Aku kembali kerumah dibonceng petugas dengan motornya. Sekitar 4 menit lamanya saat aku pergi ke pos satpam dan kembali ke rumahku.

“Ya Tuhan!” kaget sekali melihat seorang petugas satpam lain yang datang lebih awal dari pada aku saat itu sedang mengolesi tisu ke hidung Bang Jon yang berdarah. Terlihat juga tangan Judi yang luka seperti kena pukul. Satpam langsung menelpon polisi akibat kasus pencurian ini.

“Jangan kawatir... hehehe... Kita bertiga berhasil menggagalkan mereka. Tadi saat kami teriak maling! Ternyata tidak ada tetangga yang keluar rumah. Alhasil, maling itu terbirit-birit keluar dan berpas-pasan dengan ku. Ya akhirnya kena pukul deh... Judi juga kena serempet mobil mereka yang terburu-buru pergi” jawab Bang Jon dengan tenang dan pedenya.
Kemudian Judi membalas perkataan Bang Jon “Rumahmu aman - kita memergoki mereka saat awal-awal, jadi tidak sempat ambil barang rumahmu.”

Singkat cerita, aku mengobati mereka berdua. Mama Judi dan Ban Jon datang kerumahku dan kami menjelaskan apa yang tadi terjadi. Anehnya, peristiwa adanya maling ini seperti tidak pernah terjadi.
“Hahahahaha... “ Judi malah tertawa dan melanjutkan bercerita tentang tokoh kesayangannya saat main PlayStation. Sedangkan Bang Jon bercerita kalau dia masih sempat-sempatnya menyelamatkan kacamata hitamnya sesaat sebelum hidungnya kena pukul. Bagaimana caranya? aku juga kurang paham. Bang Jon kurang jelas saat bercerita pengalamannya itu.

“( Hahahahaha... )” Aku tertawa dalam hati karena mereka berdua memberikan pelajaran berarti bagiku. Aku tidak mungkin menangisi mereka, malu dong sama Bang Jon dan Judi. Tapi ada pelajaran yang kupetik dari dua sahabatku ini.

Arti persahabatan bukan cuma teman bermain dan bersenang-senang. Mereka lebih mengerti ketakutan dan kelemahan diriku. Judi dan Bang Jon adalah sahabat terbaikku. Pikirku, tidak ada orang rela mengorbankan nyawanya jika bukan untuk sahabatnya ( Judi dan Bang Jon salah satunya ).

YOUR PROMISE

“Fido kelihatannya suka sama kamu Ney..”
Kata-kata itu masih terngiang ditelingaku sampai siang ini. Walau di mataku kelihatannya berjalan seperti biasanya tapi aku seperti berada dalam keadaan yang asing, yang jauh dari keadaan yang kita ciptakan di hari-hari sebelum aku tahu tentang Fido dari Rian tadi malam yang sempat mampir ke rumah mengantarkan bajuku dari butik untuk fetival music siang ini. Seakan aku baru terjaga dari mimpi saja, mereka bertiga bertingkah seperti ada suatu hal yang membuat kita terasa sangat tidak mengenal. Apa yang terjadi? Aku tak tahu atau aku tidak ingin tahu dan berusaha tidak menerima apa yang telah aku dengar dari Rian. Ya Tuhan lama kita bersama, berada dalam keadaan yang terhimpit, senang, sakit, berjuang dan berjalan mengarungi kehidupan musik, kehidupan yang sama-sama menjadi jawaban dari rasa penasaran kita tentang bagaimana kita bisa bebas melukiskan semua rasa melalui lagu-lagu kami. Yah.. kita ada lah sahabat, sahabat dalam dunia yang selalu kita gemari, yang membuat kiat bersama-sama sampai saat ini, dunia yang membuat aku juga terjebak dalam keadaan yang sulit aku bisa melaluinya.

Janji! Karena janji itulah yang membuat semua berubah seperti ini. Komitmen kita dari awal untuk tidak menjadikan persahabatan terhanyut oleh perasan cinta seakan membuat keadaan ini semakin menyesakkan dada. Fido, kenapa dia apa yang ia lihat dari sesosok Neyla, bukan aku tak ingin melihatnya seperti ini, berubah menyalahi janji yang kita buat bersama begitu bisa melangkahinya. Tapi aku haruskah menyalahkan Fido, apakah aku tidak munafik bila aku menyalahkan dia padahal aku sendiri sekian lama terseret arus dalam perjanjian yang aku diam-diam hianati sendiri. tidak!aku tidak menyalahi janji bukan aku yang menyalahi janji tapi janji itulah yang melangkahi aku, karena jauh sebelum janji itu di buat aku sudah mempunyai perasaan suka kepadanya. Aku mungkin lemah hingga aku tak bisa mengakuinya sampai aku menceburkan diri ke dalam sebuah janji yang makin membuatku terperosok ke dalam lubang yang sangat menyesakkan. Bertahun-tahun aku melawan keadaan ini, melawan sebuah janji yang sebenarnya berat untuk aku jalani, bertahun-tahun pula aku mencoba mengingkari, menghindar dari perasaanku padanya hanya karena sebuah janji. Aku pernah kalut aku pernah putus asa, bahkan aku sebenarnya sangat merana bila mengingatnya. Tapi kenapa harus Fido, kenapa ini.
“Yah kita sambut penampilan band berikutnya yang sudah tidak asing untuk kita, X-Fun dari Rian serombongan khusus untuk kita di penghujung kebersamaan..”


Aku di kagetkan suara si April MC dari kelas IPA menyerukan kepada kami untuk segera beraksi ke panggung. Rian menggenggam tanganku erat menuju ke panggung, sedikit menyeret karena ia tahu aku nampak murung dari semenjak memasuki ruang ganti, tangannya yang agak berkeringat terus menggandengku ke atas panggung. Aku tak bisa menolaknya tapi sebenarnya aku tidak mampu juga menerima perlakuannya ini. Bagaimana dengan Fido, aku meliriknya ia tak berekpresi malah ia alihkan pandangannya ke Okan yang sudah menyiapkan duduknya dan mulai menggebuk drum.
“Ney, ini penampilan kita terakhir di sekolah, kasih yang terbaik jangan manyun gitu, aku tahu perpisahan itu menyakitkan tapi setidaknya kita semua lulus itu yang kita cari selama belajar di bangku SMA kan?” Kata Rian setengah berbisik di telingaku.Ia belum melepaskan tanganku, aku hanya menyapu pandanganku ke arah penonton yang sudah riuh memberikan aplausnya, yaah mungkin inilah lagu terakhir yang akan aku berikan untuk mereka, dan mungkin memang ini yang akan aku buat untuk mejadi moment terakhir bersama Okan, Rian dan Fido.
“Thanks Rian aku sedikit nervous” elakkku, Rian mempererat genggaman tangannya, mencoba memberikan kekuatan padaku, seakan ia tak memperdulikan ratusan teman-teman berkicau tak karuan, meneriaki kami, aku semakin sakit saperti ini, kulirik Fido ia masih dingin tertunduk mencoba senar bassnya sebelum kita benar-benar siap mengalunkan jiwa musik kami.
Rian melepaskan genggamannya, aku sedikit bisa bernafas lega, untuk kesekian kalinya ku tatap Fido, sekali lagi ia tidak berekspresi. Kulihat Rian sudah memainkan gitarnya kuraih mike yang di letakkan April didekat Rian. Yah kali ini kita hanya berjarak kurang dari 30 centi, agak sedikit serak mungkin suaraku tapi menurutku malah membuatku sedikit lebih seksi menyanyikan lagu yang di ciptakan oleh Rian sendiri.

Sakitku mungkin karena melihatmu
Berada didekatku tapi kutak bisa menyentuhmu
Andai kupunya berani

Sakitku mungkin bila tahu rasaku
Kau seakan jauh tapi sebenarnya kau dekat disini, dihati..
Andai kau punya rasa ini

Sakitku mungkin bila menahan ini.
Kau bebani jiwaku tentang cintaku untukmu
Andai kupunya kekuatan tuk jalani

Semuanya lebih sakit
Menyimpan segala perasaan ini
Andai ku berani, kau punya rasa untuk mau menjalani
Tak ada yang lebih sakit dari jauh darimu

Bait-bait itu aku alunkan seirama dengan permainan melodinya Rian, aku begitu terhanyut karenanya, walaupun aku sedikit bergemuruh berada dalam keadaan seperti ini tapi suara degupan di dadaku mencipatakan suara yang aku lengkingkan menjadi lebih seksi. Apalagi aku berada dekat sekali dengan Rian, dan seakan tidak mau melewatkan ini Rian tidak memperdulikan sorakan teman-teman yang meledek kami, ia lebih sering menatapku, membuatku sedikit terdampatr dalam keramaian yang sebenarnya begitu sunyi untuk melalui kisah yang seperti ini.Aku tak berani menatap Fido lagi, entah bagaimana aku bisa gila seperti ini, aku tahu jika aku menikmati ini maka hasilku bersusah payah untuk menjalani janji itu akan terkikis sia-sia oleh kemuanfikan yang aku ciptakan sendiri. Aku tak mampu menatap Fido lagi, aku hanya begitu egois menikmati lagu inidi dekat Rian karena sepanjang perjalanan kebersamaan kami dari panggung ke panggung aku tidak pernah sedekat ini dengan Rian. Dan aku harus sedikit menyimpan rasa bersalahku atas janji karena sebentar lagi aku akan keluar dari janji ini, janji yang membuatku selalu merasakan keadaan yang sebenarnnya tidak aku inginkan.


Dua lagu sudah kami selesaikan kali ini aku kembali ke ruang ganti lebih dulu dari pada mereka bertiga. Tak dapat kusembunyikan tetesan air mata yang menghangatkan pipiku, aku menghapusnya perlahan, menahan sedikit rasa nyeri di dadaku. Rasa yang sulit aku lakukan.aku tidak ingin seperti ini, tidak mau berlama-lama dalam keadaan yang menyiksaku terus-menerus. Kulihat Fido sudah berada di dekatku.
“Ada apa Ney..?” tanyanya penuh keheranan. Ah Tuhan aku tak bisa menyembunyikannya. Aku hanya berpaling memalingkan pandangan dari Fido yang menatapku penuh keheranan.
“Ga papa do aku baik-baik aja kok” kataku lirih.


“Kamu yakin Ney?” desak Fido mencoba menatap kedua mataku. Aku hanya terpejam menyembunyikan sembulan bening yang mengaburkan pandanganku. Dalam keterpejamankupun tak bisa menutupi air mata ini, karena tetap saja ia menyeruak memberontak membanjiri kedua pipiku.
“Ok! Tenang Ney! Ini bukan akhir dari segalanya, girl jangan sensi gitu dunk, kamu masih punya kita bertiga, dan kamu harus tahu kalo perpisahan itu memang selalu ada ditiap pertemuan” kata Fido bijak. Yah! Perpisahan itu akan ada untuk kita. Gumanku dalam hati. Masih punya mereka? Apa yang dibilang Fido memang benar aku masih memiliki mereka, tapi bisakah aku menjalani kebersamaan kami, aku masih memiliki mereka jika mungkin tidak dalam keadaan yang seperti ini. Tapi masikah aku memiliki mereka jika aku ingin menghindari keadaan ini. Aku menghela nafas panjang dan Fido nampak diam di sebelahku. Tak lama kemudian Rian hadir, ia sedikit kaget aku lihat dari cara dia menatap kami berdua, tapi sungguh aku tidak peduli yang aku fikirkan hanya bagaimana aku bisa keluar dari lingkaran mereka.
“Upst! Sorry ganggu..” kata Rian kemudian ia berlalu meninggalkan kami. Fido tidak menjawab aku pun enggan berguman, kemudian Fido bergegas menyusul Rian yang tergesa-gesa kelaur dari ruang ganti.Aku hanya kembali termenung, tidak ada waktu untuk memikirkan sikap Rian barusan, dipikiranku hanya di penuhi bagaimana caranya aku bisa keluar dari semua ini.


Tak terasa hari sudah sore, mendung begitu pekat memenuhi langit di seluruh kota. Sekolah sudah sepi acara sudah buyar sejak 3 jam yang lalu. Dengan malasnya aku menghampiri Fido, Rian dan Okan yang berkumpul di depan perpustakaan. Semuanya diam menatapku, aku lebih-lebih tidak dapat berkata satu patah kata walau hanya sekedar menyapa mereka. Rian yang sebelumnya lebih bisa berbicara mencairkan keadaan kali ini ikut-ikutan mematung. Aku dengar Fido menghela nafas panjang.
“Ney aku sama Okan dah memutuskan menghapus kesepaktan janji yang telah kita buat selama ini..” kata Okan kemudian. Rian tersentak lebih-lebih aku. Aku tidak bisa mencerna ini semua. Permainan apa ini, tiba-tiba aku begitu muak melihat Fido pasti ia ingin melanggar janji ini karena ia menyukaiku seperti yang Rian katakan kemarin malam. Ya Tuhan, aku tidak bisa menerima keputusan untuk membuat janji seperti ini tapi untuk mengakhiri perjanjian dalam keadaan seperti ini aku lebih tidak bisa lagi. Bagaimana mungkin ini bisa terjadi disaat Fido seperti itu, disaat aku merasakan perasaan yang selama ini sulit aku mengerti.
“Apa do, kamu mau mengakhiri semua kesepakatan kita bersama.” kataku sedikit meninggi.
“Yah..!” jawab Fido begitu entengnya. Wow mengakhiri ini hanya karena ia mulai tak sanggup melaluinya. Dia lebih egois dari penghianatanku tentang janji selama ini. Dia lebih egois ingin mengakhiri janji demi perasaannya sendiri, dan parahnya ia sudah bisa menggeret Okan untuk menyetujui usul gilanya itu.
“Kamu juga Okan, kamu juga sejalan dengan Fido?” tanyaku pada Okan.
“Ya Ney aku menyetujuinya itu yang terbaik.” jawabnya. Terbaik? Batinku. Terbaik untuk semua, terbaik untukku atau terbaik untuk Fido. Aku menatap Okan giris andai saja ia tahu pikiran Fido. Sayangnya hanya Rian yang tahu, dan tentunya aku juga.
Kutatap Rian, ia hanya menunduk. Aku jadi sangsi atas sikapnya yang ia tujukan bila seperti ini. Akankah ia akan menyetujuinya juga.
“Kamu Rian...?”
“Aku nggak tahu Ney,..”jawabnya lirih. Rian kenapa kau ini, batinku. Dengan kediamanmu kamu berarti akan membuangku jauh-juah dari sini. Dengan kamu mengikuti keputusan ini maka...
“Ok berarti memang kalian mengharapkan aku untuk mengakhiri janji ini, yah aku akan mengikuti keputusan ini, aku tidak akan pernah menganggap janji itu ada karena aku akan keluar dari band ini, menerima keputusan ini.” kataku lalu berlari meninggalkan mereka yang masih terbengong-bengong dengan keputusanku. Kupercepat langkahku meninggalkan perpusatakaan. Mendung ini sudah tidak dapat menahan muntahan hujannya ke bumi. Gerimis mengguyurku bersama pedihnya hatiku.
“Ney..dengerin Ney..”
“Ney..kamu apa-apan sih..” aku masih mendengar teriakan mereka. Teriakan Fido dan Okan. Aku tak peduli aku berlari menembus gerimis yang sudah menjadi deras hujan yang mengguyur tubuhku.Aku berlari menyeberangi lapangan yang sebagian sudah becek manampung air hujan.di tengah-tengah lapangan tiba-tiba seseorang menggapai tanganku. Mau tak mau aku menghentikan langkahku.
“Ney..kamu apa-apan sih”


“Aku nggak bisa menerima keputusa ini Rian.” kataku serak. Rian menatapku, ia genggam tanganku. Aku tak bisa menerima ini aku kira genggamannya tadi siang sudah cukup melumpuhkanku. Kutepiskan tangannya.
“Tapi kenapa Neyla, kamu tidak harus keluar dari band, kita akan bicarakan baik-baik” kata Rian meyakinkan.
“Aku sudah tidak sanggup Rian, aku sudah tidak sanggup berada diantara kalian dengan janji ataupun tanpa janji.”
“Janji itu dihapuskan karena ternyata ada yang tidak bisa menghapuskan rasa cintanya kepadamu, ada yang mencintaimu Neyla” telingaku panas mendengarnya. Rian kenapa dia sama dengan yang lainnya tidak mau mengerti aku.
“Paling tidak pikirkanlah band kita, kamu jangan egois..” sergah Rian lagi. Aku makin muak mendengarnya.
“Tapi aku tak bisa Rian, aku tidak bisa menerima cinta...”
“Yang mencintaimu adalah aku..” kata Rian memotong kata-kataku. Seakan aku tertimbun oleh jutaan mawar yang begitu wangi menyengat, mengharumkan di setiap sudut hatiku. Aku hanya bisa menelan ludah. Seolah tidak mempercayai ini semuanya, kutatap mata Rian yah! Aku melihat kesungguhan itu disana. Dimatanya...
“Fi..Fido” kataku terbata, yah aku sedikit kaget dengan ini semua. Rian tertawa..apanya yang lucu. Aku mengernyitkan dahi, mencoba mencerna apa yang aku katakan, aku kira tidak ada yang konyol. Dan Rian terus tertawa. Aku menunduk, tak tahu apa maksudnya tapi aku juga berdesir, bergetar halus merasakan semuanya.
“Fido tuh nggak suka sama kamu Ney, aku hanya ingin membaca hatimu, aku kira aku dapat jawabannya tadi malam, nyatanya... aku belum mendapatkan jawaban yang aku inginkan, Fido dan Okan mereka memutuskan semua ini untuk aku yah kalo kamu setuju untuk kita.” katanya sambil membelai rambutku. Ah mukaku merah karenanya.
Hujan semakin deras, semua berwarna putih kami seakan berada diantara awan-awan cantik di atas angkasa. Penglihatanku tak bisa lagi melihat gedung sekolah yang mengelilingi lapangan. Semua tertutup oleh lebatnya hujan. Dan semua berjalan begitu cepat, aku tak terasa atau aku memang terlalu merasakannya, tiba-tiba Rian mencium bibirku, aku hanya bisa terpejam mencoba merangkai arti dari semua ini. Seolah terlepas dari beban yang sekian lama kubawa, berhenti dari perjalanan panjang yang melelahkan, sekarang aku bisa melepasnya menikamati semuanya dengan rasa lega. Bibir itu terasa hangat dan jujur aku sangat menikmatinya. Semuanya terasa lebih indah bila lama seperti ini. Saat ia melepaskan bibirku aku ingin mengatakan sesuatu.
“Rian aku...”
“Sudahlah kamu tidak perlu menjawabnya aku sudah tahu, kalau di hatimu ada aku, kamu tidak pandai untuk menyembunyikannya Ney, dari caramu menyanyikan laguku tadi, aku bisa merasakan cinta disini.” katanya sambil menunjuk ke hatiku. Aku tersenyum malu, menyembunyikan perasaan ini memang tidak mudah. Dan tanpa sadar lagi aku menerima kecupannya untuk kedua kalinya sampai suara Okan dan Fido mengagetkan kami. Mereka berlarian menembus dinding awan yang di bentuk hujan di sekeliling kami. Berlarian dengan wajah penuh kecemasan. Aku dan Rian hanya tersenyum melihat tingkah mereka. Rian tanpa sungkan menggandeng tanganku, menggenggamnya erat. Okan dan Fido berhenti tepat didepan kami saling bertatapan, mendelik kemudian tertawa bersamaan.
“Kayaknya, kita salah mencemaskan mereka do, lihatlah sebentar lagi lagu baru tentang cinta mereka akan membuat bosan acara manggung kita.” kata Okan kemudian. Kami berempat tertawa bersamaan.
“Jadi keluar Ney?” tanya Fido meledekku. Rian menatapku kemudian tertawa lirih.
Kami berjalan menembus awan hujan bersama-sama kami akan meraih cita dan tentu cinta. Rian menggenggam erat tanganku dengan eratnya. Ada kedamaian yang tercipta seperti ini. Aku tak bisa membayangkannya jika kita kelak akan bubar seperti kisah band yang sudah sering menjadi kebiasaan bila sudah di atas ketenaran. Semoga ini tidak terjadi kepada kami.Percayalah, kami bisa mengerti tentang arti sebuah janji.Diantara candaan Okan dan Fido Rian membisikiku
“Jangan lepaskan aku Ney, love you honey” mataku mengahangat, satu keinginan yang tak bisa kutahan, menangis karena cinta atau menangis karena bahagia. Yang aku tak tahu apa bedanya???

When I Dream Bout YOU

“Arya! Kamu lama!” seru Selena sambil melambai-lambaikan tangan padaku. Ia tertawa di bawah sinar matahari yang menyinari tubuhnya yang putih. Memintaku untuk cepat mengejarnya yang sudah jauh dari pandanganku. Sebenarnya ia curang karena tidak membawa barang apapun di tangannya, tapi aku memilih untuk diam saja.
“Aryaaa!!!” Selena lagi-lagi memanggilku yang sudah kepayahan karena membawa beban berat.Aku berusaha untuk mengejarnya. Aku tidak mau kalau ia sampai lenyap dari pandanganku. Aku ingin selalu melihatnya, terus mengawasi sosoknya yang sangat mempesona.
Akhirnya aku bisa melihat Selena yang menunggu kedatanganku. Ia tersenyum senang saat melihatku. Ah, lagi-lagi ia berhasil menggodaku untuk terus menatapnya. Itu memang bukan salahnya karena terlahir secantik dewi matahari, tapi di dalam hati aku terus saja menyalahkannya karena dengan mudahnya ia telah mencuri hatiku.
“Selena…”
Selena berjalan mendekatiku. “Apa tasku aku bawa sendiri aja?” tanyanya polos.
“Jangan!” tolakku. Mana mungkin aku tega membiarkan gadis berperawakan kecil sepertinya membawa barang yang berat? Lebih baik aku hancur saja karena semua beban yang kubawa dari pada membiarkannya membawa itu semua.
“Mau istirahat aja?”
“Nggak usah, sebentar lagi sampe kan?”
Selena mengangguk. “Iya, sebentar lagi kok. Sabar ya…” ia mengambil saputangan putih dari saku bajunya dan mengelap keningku yang basah karena keringat.
Aku kembali berjalan. Kali ini Selena berjalan di sampingku. Ia terus menatapku dengan pandangan khawatir. Aku benar-benar menyukai matanya yang besar dan bulat itu. Seperti bulan purnama, selalu bersinar dalam kegelapan. Terus menyinari hatiku.
“Arya, berat ya?”
“Nggak,” ucapku. “Asalkan kamu di sisiku, semuanya terasa sangat ringan.”
Wajah Selena merona merah saat mendengar ucapanku. Ia benar-benar manis. Aku jadi teringat saat aku pertama kali bertemu dengannya, saat itu aku berada di rumah sakit karena terjatuh dari motor dan terluka parah. Aku hampir mati karena kecelakaan itu, tapi untung saja aku selamat. Walaupun aku tidak bisa menggunakan kakiku untuk berlari lagi…
***
Aku melihatnya dari jendela kamar rumah sakit. Namanya Selena, aku tahu itu dari sorang suster. Ia selalu membaca buku di bawah pohon, sepertinya ia juga seorang pasien.Aku juga tidak tahu kenapa, gadis berambut hitam panjang itu benar-benar menarik perhatianku. Bukan karena wajahnya yang sangat cantik, tapi karena bahasa tubuhnya yang terlihat sangat menarik. Saat membaca, ia terkadang tersenyum, tapi juga terkadang menangis. Aku ingin tahu apa yang di bacanya sampai-sampai ia bisa seperti itu.
Akhirnya sehari sebelum aku keluar dari rumah sakit, aku memberanikan diri untuk menyapanya. Selena berkata bahwa ia juga tahu kalau aku selalu memperhatikannya dari kejauhan. Aku sangat senang, tapi aku juga ingin ia tahu bahwa aku telah jatuh cinta padanya.
Baru kali ini aku merasa seperti ini, ia seperti gadis yang memang sudah ditakdirkan untukku. Saat melihatnya, aku tidak pernah merasakan perasaan cinta yang menurutku serumit benang kusut. Ia begitu mempesona dan aku mencintainya secara tiba-tiba. Sesederhana itu.
Saat melihat sampul buku yang selalu di bacanya, aku sangat terkejut karena buku itu adalah buku yang ditulis saudara sepupuku, Marcell. Aku juga pernah membacanya, novel itu menceritakan seorang gadis yang hanya bisa bermimpi, tak pernah melihat kenyataan yang ada. Selena tersenyum saat aku membicarakan buku itu. Ia berkata, “Hiduplah dengan impian, karena mimpi bisa menciptakan keajaiban.”
Aku terdiam saat mendengar kata-katanya. Jujur, aku tak menyukai sifat tokoh utama dalam cerita itu yang selalu bermimpi. Mimpi yang tak akan pernah terkabul karena 7 hari lagi ia akan meninggalkan dunia.
Saat keluar dari rumah sakit, aku berjanji pada Selena akan sering menjenguknya. Aku tidak pernah berani bertanya apa penyakit yang di deritanya, tapi katanya sejak kecil ia sudah dirawat di rumah sakit.
Seiring waktu berlalu, menjenguknya sudah seperti sebuah kebiasaan. Setiap hari kulewati dengannya di rumah sakit. Mungkin aku dan dia memang tidak seperti pasangan yang selalu melewatkan malam minggu untuk berkencan, tapi aku cukup bahagia. Aku bahagia karena ada dirinya.
Kusadari ia telah menjadi bagian dari jiwaku. Setengah dari jiwaku yang telah lama hilang dan akhirnya kutemukan.
***
Tiba-tiba Selena menghentikan langkahnya. “Arya, makasih ya…”
“Untuk apa?” tanyaku bingung. Aku juga ikut berhenti berjalan. Saat Selena menghentikan langkahnya, entah kenapa aku merasa takut. Aku takut setiap langkahnya yang selalu mewarnai hariku itu akan hilang.
“Untuk semuanya,”
Aku tersenyum padanya. “Harusnya aku yang berterima kasih, Selena…” ucapku. “Karena kamu aku bisa terus melanjutkan hidupku.”
Selena, semua yang kukatakan itu tulus dari lubuk hatiku. Tak pernah sekalipun aku berbohong tentang bagaimana perasaanku padamu. Andai kau tahu bahwa hidupku seakan berakhir saat aku tak bisa berlari lagi. Impianku untuk menjadi pemain basket telah hancur berkeping-keping. Sejak itu aku tak ingin bermimpi lagi karena bila tak terkabul akan sangat menyakitkan.
“Kenapa?” tanyanya.
Aku mengecup lembut keningnya. “kamu membuatku ingin bermimpi lagi, mimpi kita akan selalu bersama selamanya. Kamu akan menjadi pengantinku yang tercantik di dunia, dan kita akan punya banyak anak. Setelah itu aku tak butuh apa-apa lagi…” dan kalaupun hal itu hanya sebuah mimpi yang tak akan terkabul, tolong jangan bangunkan aku.
Tiba-tiba Selena memelukku. Aku membalas pelukannya dengan hati-hati. Aku selalu takut bila memeluknya, aku takut tubuhnya yang kecil akan hancur di pelukanku.
“Arya, aku mencintaimu…” kata Selena pelan.
“Jangan menangis,” aku tahu ia sedang menangis di pelukanku. Sakit sekali rasanya saat mengetahu hal itu. “Kamu tahu bagaimana perasaanku.”
“Cinta itu aneh ya?”
Benar, sangat aneh… aku menjawab di dalam hati.
“Bahkan walaupun aku sudah mati, cintaku padamu tak pernah berubah.” Selena melepas pelukannya. Tiba-tiba aku merasa tubuhku sangat berat. Barang yang ku bawa seakan-akan bertambah dan membuatku tak bisa menggerakkan tubuhku. Aku melihat sekelilingku, semuanya serba putih. Padahal Kenapa aku baru menyadari bahwa tidak ada apa-apa di sini?
“Sudah sampai, Arya...” ucapnya.
“Se..lena…”
Selena menatapku. Tatapannya sedih. “Arya, kamu tahu tentang novel yang kubaca saat aku pertama kali bertemu denganmu?” tanyanya.
Aku terdiam. Berusaha menggerakkan tubuhku yang seperti batu.“Sebenarnya impianku sama dengan mimpi gadis di cerita itu,” ia tersenyum. “Aku ingin hidup. Selamanya hidup denganmu…” lanjutnya.
Setetes air mata mulai jatuh di pipiku karena Selena makin menjauh. Aku mulai menangis. Tanganku tidak bisa lagi untuk menjangkaunya. Ia jauh sekali…
Kalau begitu bagaimana dengan mimpiku untuk bersama denganmu? Apa benar bila aku terus bermimpi akan ada keajaiban seperti yang kau katakan padaku dulu?
“Arya, udah pagi!”
Sinar matahari masuk melalui cela-cela jendela kamarku dan menyinari tubuhku yang tertidur. Perlahan-lahan mataku terbuka. Ah, lagi-lagi aku bermimpi. Mimpi tentang seorang gadis yang sangat kucintai...

Kamis, 06 Oktober 2011

L O V E (cerpen)

Dia berpelukan. Tangan kanannya sibuk merangkul pinggang wanita dengan erat. Wanita itu kini membalas pelukan pria. Tak kalah erat. Bagian depan tubuh mereka kini tengah beradu. Saling tekan satu sama lain.

migration bird

Kehangatan itu mengalahkan dinginnya udara. Tumpukan benda putih di sekeliling mereka tengah meng-cover seluruh warna-warna indah. Tapi ini setting yang pas, untuk momen seperti ini. Burung yang ber-migrasi melambai kearah mereka. Tapi mereka terbenam, di lautan kebahagiaan dalam kehangatan yang nyaman.

Kepala mereka kini terangkat dari kesunyian. Mata mereka bertemu. Ada suatu atmosfer aneh, yang membuat wajah mereka semakin mendekat. Engahan nafas satu sama lain terasa. Debarnya cukup kuat, untuk meletuskan gunung merapi dalam otak mereka. Otak yang penuh gunung gejolak nafsu. Wajah keduanya memerah. Mata mereka kini memberat, menutup, tapi wajah mereka tetap tertarik satu sama lain. Bibir mereka hangat, bertemu, dan membiarkan diri mereka menikmati saat-saat itu.

Brak!

“Kennnnyyyyy!” semua bayangan tadi hilang. Buku melesat, meluncur menuju dinding olive-green pucat. Kenny, tersentak. Tubuhnya terjungkal dari kursinya. Dia jatuh, bersatu dengan kamarnya yang hancur, bersama undershort, jeans, kaos 347, berbagai merchandise, DVD film, buku-buku mulai dari novel, komik, intisari rumus-rumus dan....buku ‘1002 sms Error se-Jawa Barat’ -yang kini berada tepat di bawah kakinya-.

Buku yang baru ia baca, sudah berada di tangan sang Monster Kelamin nomor 1 seantero Karang Pawitan. Dibaca, dan dibuang seketika. Tak tahu kenapa, Kenny memandang ngeri buku yang baru dibelinya dengan sisa uang saku setengah tahun, merasa buku itu menangis. Menjerit-jerit. Histeris. Memang gila, pikirnya. Namun siapa sangka, buku itu mengeluarkan setitik air mata buku yang tak akan pernah bisa dilihat semua makhluk, termasuk buku itu sendiri walau buku itu bukan makhluk.

“Kampret, Lu!” Kenny tak kalah dalam hal membentak membabi buta. Duk!  Secepat percepatan gravitasi, buku sudah menempel, merebahkan tubuhnya yang keras di wajah Kenny. Alhasil, wajah merah mantap.

“Sopan dikit napa? Abang lu, nih!” sengitnya, menunjuk dirinya sendiri. Wajahnya sedikit lebih garang dari Kenny, dan lebih tampan tentunya. Struktur badannya proporsional, berotot pula, namun tetap saja. Dia orang gila.

Tak sabar menunggu hingga bedug subuh, dia langsung menggapai kaki Kenny, menyeret Kenny hingga ruang makan. Sinting. Kenny mengaduh-aduh, meronta-ronta, berteriak histeris, tapi saat sepertiga perjalanan menuju ruang tamu, Kenny terpaksa surrender.

Kenny kini bebas seutuhnya. Kakinya tak lagi dicengkeram monster itu. Saat ia berusaha bangkit, dia melihat sebuah tangan menjulur. Seperti peminta-minta. Tapi dia cantik. Bukan meminta-minta, dia hanya ingin membantu Kenny untuk bangkit.

Fabulous! Momen yang sangat tidak pas. Diseret monster dan disaksikan mahluk cantik dari planet venus itu. Wajah Kenny merah mantap. Bukan sakit, tapi malu menjadi sebuah obyek pertunjukan sirkus tingkat gila. Perfect!

“Lama enggak ketemu, Ken.” Buka perempuan itu dengan senyum mengembang. Cantik, dan manis.  Kulitnya putih pribumi asli. Rambutnya dilihat-lihat masih persis seperti dulu, rambut Britney style. Badannya ramping sempurna untuk seusianya, dan sedikit tinggi. hampir menyamai Kenny. Mungkin karena dia memakai high heels.

“Marie? Marie Santiago?” tanya Kenny memastikan, dan tak bisa menutupi rasa kagetnya. Mulutnya setengah terbuka. Perempuan itu mengangguk. Benar. Dia adalah Marie Santiago. Teman, sekaligus pengisi hatinya saat masa putih merah. Tapi akhirnya dia dapat merubah air mukanya, kembali seperti yang biasa ia tunjukan saat ia di rumah, terkecuali pada ibunya. Sedikit angkuh, dengan tatapan datar.

“Kenapa?” Marie merasakan ada perubahan raut di wajah Kenny.

“Ga apa-apa. Kapan kamu ke sini?” Kenny berbasa-basi dengan acuh tak acuh, mencoba menghargai kehadiran Marie. Ada perbedaan pemakaian kata untuk perempuan dan laki-laki dalam kamus Kenny. Setolol apapun, seangkuh, sekasar apapun, Kenny tetap menghargai perempuan. Tapi dia memang tolol, dalam artian tertentu.

“Kemarin sore. Aku ke sini mau main aja. Udah lama ga liat kamu.  Kamu tambah...keren.”senyum meledek menempel di mukanya yang cantik. Sudah lama Kenny rindu wajah itu. Tapi, Mari bertambah cantik. Dulu dia biasa saja. Tapi, ya begitulah pikirnya.

“aku udah engga kayak dulu.” Timpal Kenny datar. Dia bergegas menuju kulkas. Tepat beberapa meter ke arah tenggara tempat ia berdiri. Kulkas itu besar, dengan dua pintu. Warnanya yang mewah membuatnya begitu menyatu dengan segala benda yang tertata rapi, dalam ruang makan yang didesain dengan nuansa  Italian Home.

Dia membuka pintu kulkas bagian bawah, dan merogoh sesuatu. Tak lama ia berbalik. Kini ia menggenggam Susu Ultra rasa Strawberry favorit Marie.

“Nih. Kamu haus ga? Kalo engga, aku balikin.”

“Makasih. Kamu ko inget aku suka minum ini?”

“Just my feeling.” Katanya datar. “Ayo, kalo mau duduk. Aku ga yakin kamu kuat berdiri lama-lama.” Seraya berjalan, Kenny tersenyum. Untung saja dia memunggungi Marie. Jadi Marie tak bisa melihat kebahagiaan Kenny. Kenny sangat senang. Sangat. Tapi monster membuat semuanya...kacau. Dia kini tengah berdiri kokoh, memegang segelas Susu Ultra Full Cream hambar di tangan kanannya. Ia teguk sedikit sebelumnya, dan kembali memandang dua bocah yang berjalan ke arahnya.

“Heh, bocah. Ngapain lu senyum-senyum sendiri. Sambil jalan lagi. Ooo, gua tau. Mentang-mentang mantan cewenya dateng.” Sindir monster. Dia tengah memantik api peperangan kedua pagi ini.

“Berisik lu, Shimonster.” Timpal Kenny pada kakaknya.

“Nama gua Shimon, Kenniak.” sengit kakaknya. Shimon. Itulah nama sang Monster Kelamin nomor 1 seantero Karang Pawitan.

“Oooh, Ketek. Lucu banget sih, Monster...ketawa ga ya...?” dengan gaya yang menghina. Dia tetap jalan. Lurus. Menuju kursi yang hanya berjarak kurang lebih 10 meter lagi. Marie tertawa kecil melihat kelakuan keduanya. Sudah lama Marie tak melihat aktivitas langka seperti ini sejak 7 tahun lalu.

Ruang keluarga. Di rumah ini ruang keluarga terasa nyaman. Walau tak ada perapian, ruang keluarga memancarkan aura hangat dan kenyamanan yang luar biasa. Mungkin karena arsitekturnya yang bernuansa yunani ini dapat memanjakan indera penglihatan. Salah satu pendukungnya lagi, yakni penataan furniture yang rapi dan tertata rapi mengikuti arsitekturnya.

Dengan satu pencetan tombol dari remote yang Kenny genggam, dentuman musik Bad Romance dari Lady Gaga menggetarkan seisi ruangan. Ruangan itu kini terlihat salah kostum. Saat berbalik badan dari arah pandangan menuju Sound System, dengan cepat dan lugas Marie mencuri remote itu dan menekan lagi tombol tadi, hingga lagu Rock Show-nya Lady Gaga menggantikan lagu sebelumnya, untuk menggemakan isi ruangan. Ia tekan lagi, Unfaithful milik Rihanna mengalun, membuat sisi ruangan aman dari dentuman not balok yang sedari tadi menabrak-nabrak, hingga semua furniture berjingkat aneh memudar. Namun nuansa musik itu begitu miris, kelabu akan cinta. Seperti yang kini langung Kenny rasakan.

“kenapa kamu kayak yang setengah acuh sama aku?” tanyanya sedikit miris. Marie yang bertanya. Kepada Kenny tentunya. Tak ada siapapun kecuali sepasang insan, yang telah lapuk dalam kurun waktu 7 tahun. Menyesali waktu, selama ribuan jam, jutaan detikan jarum jam, serta trilyunan bulir pasir.

“engga, cuma perasaan kamu aja  kali. Memang gini kan sifat aku?” bantahnya

“kamu masih benci ama aku?” kini lagu Unfaithful begitu menusuk-nusuk suasana. Semakin kelabu.

Kelebatan peristiwa-peristiwa yang sudah lama terkunci rapat, terbelenggu untuk tidak memberontak, memuntahkan diri keluar belenggu, kini terbebas juga. Perasaan sakit itu muncul lagi. Kenny kini lebih tersiksa, dari Marie, yang kini sudah memuntahkan setitik air matanya. Karena masa lalu. Semu itu karena masa lalu yang...tak bisa ia rubah. Tentang apa yang ia sesali, ia benci dan ia muak.

“kita masih SD waktu itu. Udah lupain aja. Toh, aku ga keberatan kamu sama dia. Sampe sekarang masih langgeng, kupikir.” Jawabnya, menahan segala luapan emosi. Emosinya sudah ia latih selama bertahun-tahun belakangan ini. Untuk bisa menahan kemarahan, untuk tidak meneteskan air mata, untuk tidak memperlihatkan emosi apapun. Pada semua orang, termasuk keluarganya. Juga sang Monster Kelamin nomor 1 seantero Karang Pawitan.

“aku...putus.” memecah keheningan, suara itu bergetar pelan, menyeruak dari balik bibir Marie yang mungil.

Lagu berganti. I Think I Love You, salah satu soundtrack drama Korea Full House kini mengalun. Menciptakan atmosfer baru di ruangan itu. Kenny tersentak. Tapi tak terlihat oleh siapapun, karena ia sangat pandai mengatur emosinya. Hatinya senang, hanya saja ia berfikir ini mungkin hanya sesaat. Tatapannya berubah sinis. Ia menatap tajam ke arah Marie. Memandangnya, memburu setiap kedipan yang terihat.

“lalu?” dengan ini, Kenny baru saja menembus dada Marie dengan sebuah kata tanya dengan nadanya yang mencemooh, begitu menyakitkan. “oooh, jadi kamu ke sini cuma mau ngasih tau aku, kalo kamu...putus?” penekanan pada kata putus makin membuat Marie hancur. Ditambah pandangan dan nada bicara Kenny yang semakin mencemoohnya,  Marie sangat kehilangan akal.

“kamu kira aku seneng dengan semua berita yang sangat baik ini? Kamu ngomong sama orang yang salah. Sangat salah!” Kenny telah selesai dan menutup rapat bibirnya, agar perkataan yang semakin fatal tidak menyeruak dari balik bibirnya itu.

Wajah cantik itu telah kusut. Wajah mulusnya berubah drastis. Merah padam, tergenang air mata pula. Matanya pun merah. Marie berbalik,  dan berusaha menyisakan sedikit tenaga untuk menggerakkan bibir.

“nanti...a-aku bakal...main lagi kesini. Bye...” getaran itu berdengung jelas di telinga Kenny. Terdengar jelas, walau musik RnB begitu kentara berdentum. Tapi, Kenny pun sadar, bahwa dirinya pun sama hancurnya.

Malam begitu sunyi. Ditambah hatinya yang hancur. Temannya hanyalah kamar dan isinya, serta Blackberry Curve yang setia menemaninya. Memandang setiap sudut ruangan, dan selewat menembus jendela. Di luar jendela, burung hantu beruhu-uhu. Tapi tetap tak menghiburnya yang masih menatap ke luar jendela. Bulan hanya terlihat separuh, sisanya mungkin ditelan langit, dan akan dimuntahkan seluruhnya saat tanggal muda tiba. Ia beralih meraih gitar akustik favoritnya. Mulai memetik dawai-dawainya, memulai untuk mengurangi rasa bersalahnya. Lagu yang pernah ia ciptakan untuk memenuhi tugas Kesenian. Dengan jendela yang terbuka, angin yang menyambutnya, dia membuat kata-kata yang sudah tersusun mengalun indah,  melompat-lompat keluar dari bibirnya.

Andai kau sebaik itu

Semua mungkin tak salah

kita bersama sekarang

Tanpa waktu yang ingkar janji

            Namun, waktu memanglah kejam

            Kita dicelahkan dan terbatas

            Hingga kita tak lagi harmoni

            Dalam simfoni kebahagiaan

Sungguh itu bukan maksudku

Lukai dan berikanmu hancur

Tapi aku mungkin lelah

Dengan waktu yang lupa diri

            Ku pikir kita mungkin bisa

            Tapi mungkin pula terlambat

            Biarkan waktu meminta maaf

            Dan buat kita kembali

Sekian lama emosinya terbendung, Kenny menyerah untuk kali ini. Wajahnya sedari tadi terus digenangi air matanya, yang telah turun dengan ganas. Ia menyanyi dengan getir, sebenarnya. Malam itu, malam senin. Besok waktunya memulai semester genap, sekaligus akhir masa putih abu-abunya. Tak apa malam ini dia menangis. Membiarkan waktu yang meronta, meminta maaf kepadanya.

BRAK! Pintu terbanting keras, itu tandanya Shimonster memenuhi tugasnya membangunkan Kenny. Nyawa Kenny yang masih melayang-layang ditinju oleh aura ganas Shimon. Shimon mendekat, sedikit tergesa-gesa menuju Kenny yang masih terbaring mengantuk. Mencoba menarik seluruh kelopak matanya, namun Kenny masih lemas, juga setengah sadar. Ada yang lain, kakaknya biasanya tak seperti ini dia bisa melihatnya walau pandangannya berbayang, menggandakan segala benda yang ada di ruangan itu. Wajah Shimon merah padam. Seperti marah telah dipeloroti celananya pada pesta piyama. Namun lebih garang.

“lu apain si Marie? Lu apain?” geramannya yang tajam, membuat Kenny mau tak mau menguatkan diri mengangkat badannya untuk bangun dari kasur yang nyaman.

“gua...” tak sempat ia bicara, Shimon langsung meremas kerah kaos 347 hijau tua favorit Kenny keras-keras. Mengangkat tubuh Kenny dengan tangan masih menempel pada kerah leher adiknya, untuk memberikannya sedikit pelajaran. Tapi niat itu di urungkan. Dilepaskan genggamannya, hingga tubuh Kenny bebas dan terjerembab di kasurnya lagi.

“Sorry, ga usah dipikirin. Lu ga akan bisa ngerti karena lu ga mungkin tau...” Shimon berbalik dan bergegas keluar ruangan. Mungkin kakaknya benar. Dia mungkin ga akan bisa ngerti. Dan ga akan tahu apapun. Tapi, Kenny tak peduli.

SMAN 1 Karawang. SMA Negeri RSBI pertama di Kota Karawang. Bangunan tak terlalu megah, namun kualitas siswa sangat megah.

“Stop! Mana SIM kamu?” petugas keamanan ini memang sangat terlaten dalam menangani soal seperti ini. Siapa yang tidak membawa SIM dilarang keras parkir di wilayah SMA yang kerap di panggil SMANSA ini.

“Pak, kan bapak udah tau saya punya SIM...” jawab Kenny, dengan tatapan memohon.

“Ga bisa! Mana, kasih liat SIM-nya!”

“Ugh, ribet amat udah tau juga. Nih, pak.” SIM berfotokan Kenny diperlihatkan. Dan dia boleh masuk.

Ia langsung melesat, mengambil tempat parkir strategis. Helm INK Maroon Red-nya ia bawa. Tak mau ambil risiko merelakannya dicuri orang lain. Itu Helm Favoritnya, yang terkumpul dari uang saku yang ia sisakan sepanjang liburan.

            Ia sekarang meggiring tubuhnya dengan semangat Rambo, menuju kelas tempatnya bertapa selama satu setengah tahun belakangan  setelah penjurusan akan bertapa di kelas IPA atau IPS. Kelas yang cocok untuknya sebagai orang yang tidak berguna. Langkahnya dipercepat. Ia melintasi pintu resepsionis, sekilas melirik papan bertuliskan:

Teachers and Visitors Only

Mood-nya berubah. Sedikit terusik dengan keberadaan papan itu. Tapi dia lebih memilih bergegas dari tempat itu. Kembali ke tujuan utama, Rumah Kedua.

Hari Senin, rutin di seluruh sekolah di Inonesia mengadakan Upacara. Begitu juga SMANSA.  Jadi, hari Senin wajib upacara. Makin dipercepat langkahnya, setengah berlari sambil menggenggam kait Helm-nya, agar tak terlambat bersiap diri untuk Upacara Bendera. Ia kembali melewati gerbang masuk sekaligus tempat pengecekan kendaraan bermotor tadi.

Dari situ, lapangan basket serta kantin dapat terlihat jelas. Kolam ikan pun terlihat di bawah pohon mangga yang sedikit besar, yang juga di sebelahnya terdapat pohon beringin rindang bertugu. Tempat yang masih belum banyak ter-renovasi hanyalah tempat-tempat itu. Tapi itulah yang menyenangkan, dari bersantai di tempat-tempat tersebut di jam-jam yang kosong serta waktu istirahat.

Semakin banyak siswa yang datang, motor-motor di depan pos pemeriksaan semakin mengantri. Suara klakson tan-tin-tan-tin merobek telinga, yang sedari tadi penuh berbagai suara kendaraan bermotor serta bla dan bla pembicaraan orang. Makin pusing dia. Padahal masih pagi, tapi ingin rasanya ia cepat pulang.

“Happy Birthday!” Semua anggota keluarga 12 IPA 5 sudah berkumpul rupanya. Kenny terperanjat ke belakang. Kaget. Menerima surprise yang seharusnya tidak pernah diterima oleh orang tak berguna seperti dirinya.

Kue ulang tahun kecil­, mungil, sweet moccacino berlilinkan angka 17 terlihat begitu manis. Kualitas seperti itu pastilah kualitas Famansa Cakes, tempat membeli macam-macam tart cake berkualitas dan nikmat, serta dapat menikmati pemandangan yang dapat memanjakan indera penglihatan kaum Adam. SPG-nya yang cantik dan memakai thight uniform warna putih, plus rok di atas lutut. Sama ketatnya.

“Guys...kenapa harus surprise? Gua kan bukan apa-apanya kalian...gua ga berarti buat kalian...” nada yang tak mungkin bisa dibayangkan oleh keluarganya dan juga Marie keluar dari bibir Kenny. Di dalam kelas, di keluarganya yang kedua, Kenny merupakan pemuda yang lembut. Tapi terkadang, dia tetap gila.

“lu kan ketua geng, so...this just a little surprise from us...” dengan senyum merekah, semua anggota jajaran geng 12 IPA 5 begitu menghargai Kenny, yang telah menjadi Ketua bagi mereka. Tapi itu mungkin hanya motif lain. Kenny yakin, ini cara agar penderitaannya di kelas dianggap impas. Kadang ia tersiksa di tempat itu. Tapi, whatever.



“Buruan make a wish, dong...!” seru Shishi, anggota Cheerleaders SMANSA yang hobinya Dance. Rambutnya yang panjang bergelombang se-punggung dan wajahnya yang cantik eksentrik membuatnya dapat langsung terlihat. Berdiri berjingkat, karena tinggi badannya yang kurang dari tinggi badan Lino yang juga besar proporsional. Shishi terlihat di dekat papan tulis.

Kenny melangkah mendekti kue ulang tahunnya, yang mungil, memejamkan mata dan berharap. Membuat harapan dari umurnya yang menginjak masa-masa manis. Sweet Seventeen.

Semoga hubungan gua sama Marie bisa balik lagi kayak pertama gua ketemu.

Kenny membuka kembali matanya. Memandang kue itu lekat-lekat. Lilin berangka 17 tengh meleleh perlahan, menjadi cair karena api mungil yang berpijar di sumbunya. Kenny meniup api yang berpijar pada lilin, kemudian tepukan tangan riuh membangunkan dirinya dari keheningan sesaat. Mereka yang berbahagia karenanya bergegas menghampiri Kenny, menyalaminya dan berikan ucapan selamat.

Morning sunshine in our room

Now that room is back ini tune

Autumn start this day with a smile

And laugh at my beautiful love one

Who’s laying besides me

            You so far away in your sleep

            Who can tellwhat dream you may dream

            You dont know that i was drawing

            With my finger on my sweet young face

Vague as a meaning words

You make my world so colorful

I never had it so good

My love i thank you for all the love

You gave to me

You make my world so colorful

I never had it so good

My love i thank you for all the love

You gave to me

You Make My World So Colorful mengalun lembut dari atas ruangan. Suara itu berasal dari speaker yang terdapat di setiap kelas. Tepatnya di sebelah proyektor. Lagu dari Daniel Sahuleka ini begitu lembut. Menghiasi setiap senyum, canda dan tawa pagi itu. Mereka berbagi suka di dalam ruang kelas, tempat mereka menyatukan hati mereka, dalam kurun waktu dua tahun bersama. Kisah mereka di sekolah ini mungkin akan terhenti. Tapi itu tak menutup hati mereka. Untuk selalu mengenang saat ini. Di kelas ini. Dengan gorden peach orange membuat cahaya lampu pijar menguning, menambah suasana kelas menjadi hangat.

Foto mereka saat bersama, tergantung di dinding, sebelah meja guru. Bersanding dengan kalendar dan peta Kabupaten Karawang. Meja guru, berwarna coklat dan vas bunga mungil indah ikut menghiasi ruangan. Juga lemari kaca. Di dalamnya berisi miniatur kura-kura hijau. Semua, baik furniture maupun anggota keluarga kedua, menghabiskan sepanjang waktu, sebelum upacara pagi itu, dengan canda, dengan tawa, suka cita, dan kebahagiaan yang sangat. Sangat akan dirindukan.

Pelajaran Kimia, favorit kelas mereka. Mereka telah siap menelan segala yang akan seorang nenek berikan. Nenek yang merupakan guru paling berarti seantero SMANSA. Bahasanya yang gaul, namun tegas dan lucu membuatnya menjadi teladan bagi setiap siswa. Guru. Sedikit kasar mungkin. Tapi efektif. Selain itu, guru yang dipanggil Oma Ira ini punya pendirian yang kuat, dan berpandangan luas. Walaupun sedikit egois, namun tak jadi soal. Semua menghormatinya. Dia telah membuka pintu yang terletak di timur laut tempat Kenny duduk.

“Assalamualaikum!” seru-nya kepada seluruh makhluk penghuni kelas itu. “kita ada murid pindahan dari Bandung,” tambahnya. “KM jelek! Mana tuh orang jelek?”

“hadir, Bu! Selalu!” jawab Kenny.

“suruh temen sebelah lu pindah. Murid ini pinter. Gua yakin dia bisa ngajarin lu yang payah. Daripada lu duduk ama cowo yang bibirnya harus diberi.” Perintah Oma Ira, sambil menunjukka kepalan tangannya kepada teman Kenny, berbadah tinggi, berbibir ganda. Berlipat tepatnya.

Akhirnya Qariz harus menurut untuk pindah, duduk dengan Dhilan, cowo yang sedari semester satu duduk sendiri. Sebelumnya, total murid 47. Dan kini bertambah satu. Kelas ini kelas IPA termakmur dengan jumlah siswa yang membludak, sepanjang sejarah SMANSA.

“eh, cewe jelek, masuk sini! Bentar lagi gua mau kasih ulangan.” Perintah Oma. Mata Kenny melebar, namun ekspesinya datar. Kenny sudah mengenalnya, jauh sebelum ruangan itu menjadi riuh karena kedatangan Marie, yang menjadi sang murid pindahan.

Senyum Marie merekah. Terdengar bla dan bla sana-sini mengenai Marie, entah dia berasal dari Bandung, entah dia cantik, semampai, bidadari pribumi, dan macam-macam chit-chat anak SMA seputar hebatnya semua kaum Hawa yang berasal dari Bandung. Terutama anak laki-laki. De javu. Pemandangan ini terulang, sama seperti dulu.

“hai, nama saya Marie. Saya dari SMA 17 Bandung. Seneng bisa kenal sama kalian.” Perkenalan Marie ternyata hanya cukup sampai di situ. Wajah Oma kini berubah sedikit tak sabar menyiksa Kenny dan semua anak buahnya dengan beberapa amunisi yang sudah nenek itu siapkan.

“Enough! That’s enough! Gua mau ulangan, jadi langsung sana lu duduk sama KM bego di ujung sana. Cepet!” bentak Oma Ira. Marie langsung terbirit-birit. Bukannya muram dibentak oleh Oma, tapi ia senang bisa duduk dengan Kenny.  Seisi kelas­--kecuali Kenny-- bersuit-suit kepada Marie, namun Marie tak peduli. Dia lebih peduli tentang hatinya yang begitu senang duduk di sebelah Kenny.

Bel istirahat telah berteriak sejak lima menit lalu. Kenny duduk di anak tangga, tangga sebelah kelasnya. Tangga untuk naik ke lantai atas, tempat anak kelas sepuluh. Marie berjalan perlahan, menuju Kenny yang sedang tertunduk, agar Kenny tidak menyadari kedatangan dirinya. Tapi itu sia-sia baru beberapa langkah Kenny sudah menyadari Marie yang sedang menuju tempatnya sekarang.


“Kenapa kamu milih kelas aku?” tanya Kenny. Nadanya datar, kepalanya pun masih tertunduk. Ia mengetahui itu Marie dari parfum yang Marie pakai. Karena kemarin pagi pun Marie memakainya, saat mereka bertengkar. “masih banyak kan kelas lain yang ga sepenuh kelas aku?”

“Ternyata kamu KM ya...aku ga nyangka kamu bisa jadi seorang panutan kelas.”

“Itu ga ngejawab pertanyaan aku, Marie Santiago.” Kenny mulai gerah dengan segala yang Marie berikan hari ini. Tapi Marie sudah terbiasa. Wajah Marie masih secerah tadi.

“Dan kamu ternyata baik, sama seprti tujuh tahun lalu, dan perhatian. Ga seperti di keluargamu, kepada kakakmu. Dan sikap kamu ke aku juga kemarin.” lanjut Marie seolah tak perduli dengan pertanyaan Kenny. Kenny bangun dari tempatnya. Wajahnya datar, selalu seperti itu untuk Marie.

“itu bukan urusan kamu. Kamu ga bakal kenal aku kayak dulu lagi, dan aku juga udah ga mau tau apa aja tentang kamu. Udah 5 tahun, dan semuanya udah berubah. Dan aku udah ga peduli sama semuanya sekarang.”

“oh ya?” tantang Marie.

“ya.” Jawab Kenny mantap.

“lalu, kenapa kalung yang aku kasih ke kamu 7 tahun lalu masih kamu pake?” tanya Marie, merasa menang.

“kamu mau minta ini balik?” Kenny melepaskan kalungnya, kalung manik-manik yang dibuat sekenanya, dan sudah hampir putus. Mungkin karena talinya yang terbuat dari benang wool yang digunakan untuk merajut sudah habis masa layaknya. Di kalung itu dipasang bandul tengkorak hitam mungil. Sudah keropos, sedikit memudar warna hitamnya.

“ga usah, itu udah jadi milik kamu dari 7 tahun lalu.” Marie masih tersenyum. “aku mau ngasih ini, kalo kamu masih ngehargain cewe, kamu terima ini ya.” Marie memberikan sebuah kotak mungil dark chocolate berpita bright gold. Kenny menerimanya, hanya untuk menghargai pemberian seorang wanita. “happy sweetseventeen...” tambah Marie, tersenyum dan berbalik, yang kemudian melangkah menuju kelas. Kenny hanya tertegun sepanjang saat itu.

“Ken, dari siapa tuh?” Kenny masih terdiam, membeku dengan pandangan yang melekat pada kotak pemberian Marie. Padahal dari tadi Lino menanyainya. Sudah berulang kali malah. Tapi tetap saja Kenny seolah sudah tidak memiliki lagi jiwa dalam jasadnya. “woy!”

Setelah tangan Lino menepuk kening Kenny, barulah ia tersadar, tengah makan di tempat makan di tempat makanan siap saji bersama 3 orang temannya, 3 idiot SMANSA. Makanan yang ia pesan masih belum tersentuh, padahal makanan itu sudah berdiam di tempatnya, tepat di depan wajah Kenny sejak sepuluh menit lalu.

“ups, sorry. Apaan, No?” tanya Kenny, rasanya seperti dibangunkan dari mimpi panjang. Dia memandang ketiga temannya, yang sekarang, berwajah khawatir. Bertanya-tanya ada apa dengan bocah yang baru akil balig itu.

“lu kenapa sih, Ken?” Lino mulai angkat bicara lagi. Laki-laki bertubuh besar dan tingginya yang melebihi Kenny empat sentimeter inikhawatir dengan sikap temannya yang tidak biasa ini. Pipinya yang sedikit chubby dan hidungnya yang juga sedikit besar, menjadi tak karuan dengan mimikny yang sekarang. Namun dia yang paling punya aura percaya diri diantara mereka berempat. “terus, itu dari siapa?” tambahnya.

“gua...gua aneh ya?” Kenny balik meminta pendapat.

“banget. Gua aja bingung di depan gua sekarang Kenny apa bukan.” Kali ini bukan Lino yang berkomentar, namun Dagri. Saat kelas sepuluh, Dagri memang lebih tinggi dari Kenny. Namun Kenny lebih tinggi beberapa senti darinya sekarang.

“gua...gua Cuma lagi galau, cuy..” jawab Kenny sekenanya, sambil tersenyum yang dipaksakan.

Perhatian kepada seluruh pengunjung Mal Karawang, bagi yang bernama Kenny Deranjaro Porta, dari SMA Negeri 1 Karawang, diharapkan menuju Zone2000. Keluarga sedang menunggu. Silahkan kembali pada kegiatan anda kembali, terima kasih.

Kenny terlonjak dari tempat duduknya. Apalagi yang akan ia dapat hari ini? Begitu banyak hal yang terjadi hanya dalam waktu beberapa jam.

“Ken, nama lu disebut tuh!” Mirham setengah berteriak. Girang sekali Mirham, anggota terakhir 3 Idiot SMANSA. Panggilannya Shrek karena badannya yang tinggi besar juga sedikit gelap. Namun wajahnya eksentrik.

“apaan lagi coba yang gua bakal dapet hari ini?” gerutu Kenny, meratapi dirinya, yang sudah kenyang dengan segala surprise yang ia dapat hari ini.

“mau kita temenin ga?” tawaran itu diajukan oleh Lino.

“boleh, langsung aja yuk! Gua udah males lama-lama keluyuran. Nanti gua tambah sial lagi kalo lama-lama di luar rumah.”

Mereka berempat telah beranjak, meninggalkan tempat mereka, melewati sebuah pintu kaca, yang disebelahnya berdiri patung kakek tua bertongkat dan sudah ubanan memakai jas putih sedang tersenyum ke segala arah.

Tinggal menaiki satu buah eskalator lagi, Zone2000. Kenapa harus tempat itu? Entahlah, Kenny pun merasa tersentil. Tiga orang temannya mengikuti, berharap-harap cemas sesuatu yang buruk akan terciprat pada diri mereka. Sudah di tangga terakhir sebelum sampai tujuan. Namun sekilas dalam otaknya, Kenny merasakan sesuatu yang buruk.  Melesat begitu saja, perasaan yang makin memuncak, sadar akan ada bahaya. Ia membalikan badannya, berteriak pada ketiga temannya.

“guys! Lu pada harus pergi! Gua punya firasat engga enak!”

“emang kenapa?” Shrek ikut-ikutan berteriak. Semua pandangan tajam mengarah pada keempat orang itu. Merasa terganggu dengan kegaduhan tersebut mungkin.

“gua ga tau, mending kalian tunggu di bawah aja deh! Buruan balik turun sekarang!” Mengejar waktu yang semakin memburu, Kenny melesat menaiki tangga eskalator yang tengah berjalan, bergegas sebelum firasatnya benar-benar terjadi. Sedangkan ketiga temannya pun berbalik dan melesat melawan arah tangga eskalator, untuk menuruninya.

Sampai. Zone2000 sudah terlihat. Kenny, melihat mahluk venus yang cantik sedang berdiri, menunggu kedatangan seorang Kenny yang begitu membenci dirinya. Mungkin, memang sudah saatnya Kenny memperbaiki seluruh hubungan buruknya, semua yang sudah ia telan 5 tahun ini, untuk bersikap baik, dan memujanya seperti dulu.

Pandangan mereka bertemu. Kini, Kenny memaksakan bibirnya untuk sedikit merekah. Wajahnya yang biasa datar untuk diri Marie Santiago, akan ia rubah sejak sekarang. Dan tugas pertama yang akan ia laksanakan, meminta maaf pada wanita manis itu. Marie tak menyangka wajah itu akan bersinar lagi kepadanya.  Ia pun memberikan senyuman termanis yang pernah ia miliki. Wajahnya merah merona kini.

Marie dapat melihat kotak pemberiannya tergenggam oleh tangan kokoh Kenny, di sebelah kanan. Ia senang, dan menyadari mungkin Kenny akan menerimanya lagi, seperti sebelum saat itu. Muncul lagi, ketegangan yang sangat kentara. Sesuatu yang buruk tengah memburunya.

Bersama dentuman yang dahsyat ia merasakan dirinya terhempas menjauhi Marie. Kepulan asap melesat dengan cepat, menutupi seluruh permukaan lantai 2 itu. Tak terlihat apa-apa lagi disana, hanya kepulan asap yang menutupi segala sesuatunya yang mungkin saja hancur.

Seluruh tubuhnya terasa remuk dan panas. Kenny tak dapat berbuat apa-apa, walaupun itu hanya menjentikan seujung jarinya. Udara berpasir menghalangi pandangannya. Tubuhnya mengeluarkan banyak darah, ia tahu itu. Saat dirinya terhempas, ia menubruk-nubruk benda padat yang entah apakah itu. Ia tergeletak tak berdaya bersama orang-orang yang sudah tak memiliki jiwa.

Dari hidung, telinga, dan kepalanya yang terbentur keras mengalir darah segar yang hangat. Kesadarannya semakin memudar. Namun ia teringat gadis cantik yang menunggunya. Marie. Bagaimana keadaannya saat ini, Kenny tak tahu. Dia berdoa pada Tuhan;

Tuhan, aku belum minta maaf pada Marie. Aku ingin dia tahu, aku memang bener-bener cinta sama dia, walau belakangan ini sikapku kasar. Sungguh, aku ingin waktu memperbaikinya, melalui apapun yang bisa membantu waktu memperbaikinya. Mungkin waktuku sampai disini. Terima kasih Tuhan, kau telah menciptakan waktu, yang walaupun begitu kejam, telah mempertemukanku dengannya 5 tahun silam. Kumohon, kepada waktu untuk memperbaiki segalanya.

Kenny sudah tak sadarkan diri. Tergeletak bersama darahnya yang masih mengalir. Bersama segala sesuatu yang telah hancur karena ledakan bom bunuh diri. Lantai 2 Mal Karawang hancur total. Tak lama, 3 orang temannya berteriak histeris. Suara ketiganya menyayat setiap telinga yang mendengarnya. Tapi Kenny tak mendengarnya. Jiwanya sedang berkelana, dan sang waktu menemaninya.

888

Tahun 2004 sudah menginjak masa tengahnya. Bulan Mei yang hangat baru saja menyambut Kenny, yang kini sedang melangkah memasuki kelas. Semuanya riuh. Hilir mudik bocah-bocah kelas 5 SD dalam kelasnya, berlarian dan berseru-seru dengan kentara. kegaduhan Pasar ikan pun kalah oleh paduan suara berbagai jenis bocah yang rata-rata berumur sepuluh hingga sebelas tahun itu.

Lonceng berteriak, tanda dimulainya waktu untuk memperoleh berbagai ilmu baru. Ibu guru setengah baya itu masuk, menggenggam pergelangan tangan seorang gadis kecil yang manis, di tangan kanannya. Sedangkan tangan satunya menenteng sebuah tas Sophie Martin hitam pudar yang mengembang, mungkin akibat isinya yang membludak.

888

“anak-anak, kalian dapat teman baru. Dia dari Bandung” jelas Bu guru.

“Bu, pelajaran Kesenian sekarang kan?” tanya Kenny.

“kaga, tahun depan! Hahahahahaha...” suara tawa menabrak-nabrak dinding kelas yang kini bergetar karena kegaduhan.

“hai, nama aku Marie. Marie Santiago.” jelas gadis manis itu.

“siapa yang mau duduk sama-sama Marie?” tanya bu guru menggugah semangat. Seluruh anak laki-laki mngangkat jari telunjuk mereka tinggi-tinggi. Tak mau kalah, beberapa anak menaiki kursi mereka sambil tetap mengangkat jari. Hanya Kenny yang tidak tertarik. Dia lebih suka mencorat-coret halaman bukunya yang paling belakan, serta sesekali  memandang ke luar kelas.

“kamu duduk sama Kenny, ya. Yang di sana tuh. Dia lagi bengong melihat ke arah pintu. Ya?” pinta bu guru pada Marie, yang memang sedari tadi mengagumi Kenny. Ketika orang lain menginginkan gadis mungil itu untuk duduk dengannya, Marie melihatnya yang tak begitu peduli. Membuatnya berfikir Kenny itu spesial.

“ya, Bu.” Marie mengangguk, kemudian tersenyum pada wanita pekerja keras itu. Kerutan di wajahnya terlihat, membuatnya terlihat sangat lelah dalam menjalani kewajibannya. Namun senyum wanita tua itu hangat, penuh kasih sayang.

Marie bergegas menuju tempat Kenny, tempat yang akan menjadi tempatnya pula untuk beberapa bulan kedepan. Sebelum dia kembali ke Bandung lagi, bersama ayahnya yang kini sedang mengurus proses perceraian. Ia ke Karawang karenya pesan kedua orang tuanya, memintanya tinggal dengan tantenya agar kedua orang tuanya bisa menyelesaikan peekerjaan rumah tangga mereka. Marie tak pernah tahu kalau orang tuanya akan bercerai. Yang ia tahu, orang tuanya kurang rukun.

“hai, aku Marie.” suara lembutnya mengaketkan lamunan Kenny. Kenny spontan, dengan cepat menolehkan wajahnya ke belakang. Wajah mereka hampir bertabrakan. Hanya berjarak 2 senti sekarang. Seluruh wajah menghadap mereka berdua, seluruh siswa, baik perempuan maupun laki-laki bersuit-suit, kembali menciptakan kegaduhan sesaat.


Selama dua bulan mereka sudah saling mengenal dengan baik satu sama lain. Sangat baik. Mengetahui makanan favorit, tempat impian, lagu, buku cerita, film favorit mereka. Kenny lebih bersemangat untuk bersekolah sejak itu. Marie yang begitu baik dan pengertian membuatnya berubah dari sifatnya yang pendiam, muram dan sukar berkomunikasi dengan orang lain. Semua temannya pun kini tidak sungkan dan mengurangi ejekan mereka pada Kenny, karena mereka sudah mengetahui bahwa Kenny ternyata sangat baik.

Mereka berdua duduk di bawah pohon jambu air besar yang rindang, dimana banyak sepeda berjejer tak beraturan menemani mereka.  Marie mengajak Kenny berfoto dengan kamera Handphone Nokia 6600-nya. Mereka berfoto. Manis sekali hasil potretan itu.

Sabtu, 01 Oktober 2011

Endless Love (cerpen)

Dalam rinai air hujan yang tetesannya membuat seluruh alam seakan2 bisu .
Aku terlelap d dalamnya , terbuai dgn mimpi.
Sampai tiba2......

" Tidak......."  Aku terbangun dengan sangat terkejut,
Entah mengapa aku bermimpi buruk , bahkan sangat buruk.
Kulihat jam baru pukul 03.00 dini hari .
nafas ku menderu tak beraturan,badan ku terasa sangat letih dan lemah tak bertenaga.
" Nauzubillah min dzalik , aku ga mau itu terjadi , mudah-mudahan ini cuma bunga tidur . "
Aku mencoba utk tidur lagi , tapi mata ku tak bisa d pejam kn lg.
Aku pun mencoba mencari suasana yg nymn.
Walaupun di luar hujan,aku tetap duduk d teras , lalu tiba2 dia muncul di tengah hujan dgn basah kuyup.
Dia,seseorang yg telah mengisi relung jiwaku beberapa tahun belakangan ini.
" Knp malam2 kayak gini kamu kesini ?" tanya ku heran
" Ga pa pa ko' aku cuma pengen ktmu kamu, walaupun cuma sebentar, " sahut nya
"kamu ga pa apa kan? ntar sakit lho hujan2an kayak gitu, "
" Iya aku ga apa2,"

Dia pun memeluk tubuh ku , tubuhnya terasa sangat dingin dan aku tak tau kapa yg membuat hatiku saat ini menjadi sangat sakit.
Dgn pelan dia berkata,
" Aku minta maaf ya kalo selama ini aku ada salah, aku sayang bgt sama kmu , aku rela berkorban apa saja demi kamu, bahkan nyawa ku pun,"
" Kamu ko' ngomong gitu sih? kamu ga punya salah ke aku. aku juga sayang bgt sama kamu apa pun yg terjadi, kamu akan tetap terus berada di hatiku , memenuhi hidup ku selamanya dan tak ada yg bsa menggantikan posisi mu di hati ku. "
" Walaupun aku udah ga ada lagi? "
" Iya. tp aku ga mau itu sampai terjadi,aku mau kamu terus menemani ku,"
" Aku jd lega dengernya,sekarang aku bsa pulang dgn tenang."
" Kamu mau pulang sekarang ?"
" Iya , udah terlalu lama aku di sini,"
" Ya udah, hati2 d jln ya. "
" Iya..."

Bodohnya aku,aku saat itu tak menyadari apa yg sebenarnya telah terjadi,

Tak lama setelah dia pergi lalu Hp ku berbunyi,dari dia.
Aku tak kaget karena biasanya pun sehabis kami bertemu, dia langsung nelpn aku sambil di jalan"
" Halo,selamat malam, apa benar ini Lia? " Tanya suara d ujung  sana,
Aku bingung ko' itu bukan suaranya Dimas," Iya, ini siapa ya?" tanya ku,
" Maaf, saya dari  temennya Dimas, tasi sore Dimas mengalami kecelakaan dan sdh  d lari kn k rmh sakit,setelah menjalani perawatan yg cukup lama Dimas sdh tdk dpt d tolong lg,"
Aku syok mendengarnya, bagaimana bisa? sedabgkan beberapa  saat yang lalu dia ada di sini'
Dunia ku terasa runtuh, aku udah ga berpijak di bumi lagi ,gelap semuanya,,,,
Ketika aku sadar, aku udah berada dikamar dan ada orang tua kekasih ku,mereka menjemput ku utk menjemput jenazah dimas d RS.
Dgn sisa kekuatan ku aku pun mencoba memberanikan diri utk melihat kondisi x.
Di perjalanan menuju RS, aku berfikir ternyata kejadian malam itu adalah pertanda, dia minta izin utk pulang utk selama2nya.
Air mataku mengalir terus menerus,aku tak tau knp Tuhan selalu memberikan cobaan berat di hidup ku.
Akhirnya aku sampai d RS , aku melihat tubuhnya terbaring kaku,tidak ada yg berubah darinya , tak ada lecet2 ataupun lukadi tubuhnya, hamya memar d bagian dada karna dokter bilangbeberapa tulang di rusuknya patah dan menekan jantungnya, itulah yg menyebabkan kematiannya.

Ku cium kening nya,dingin...
Itulah perasaan seperti yg ku rasa saat Dia "datang" malam itu,

Kami membawa jenazahnya pulang,tak ada yg bicara,semuanya berduka
Hari  itu sangat mendung, seolah2 langit pun berduka.
Aku teringat saat2 indah saat aku bersamanya,saat yg takkan pernah terhapus dari ingatan ku dan takkan prnh terganti selamanya
Semua org telah meninggal kn pemakaman, tersisa aku dan kenangan ku.
Sampaisaat ini aku masih tak percayadgn knyataan ini, baru kemarin dia disamping ku tp skrg dia tlh terbaring tenang dsni.
Aku tak tahan lg membendung kesedihan ku,

" Kau akan tetap tinggal di hati ku , selamanya. Aku janji..."


--------------------------------------------+++++++---------------------------------------------


" Sejak saat itulah setiap minggu ibu databg ke pemakaman utk menziarahi makam Dimas dan itu berlangsung sampai saat ini, itu juga sebab nya knp sampai skrg ibu msh sndiri. Tak prnh ada niat sdkit pun di hati ibu utk mncari pengganti Dimas. Dimas adalah cinta pertama dan cinta terakhir ibu . " kata ibu Lia mengakhiri ceritanya.

Itulah cerita IbuLia tentang masa lalunya,tak ku sangka masa lalu Ibu Lia setragis itu, Ibu Lia adlh guru bhs ingg d sekolah kami.
Ibu Lia menceritakan nya karena td pagi ada murid  yg menanyakan tentang kesendirian beliau,dan sampai akhir nya ibu lia menceritakan hal  itu,.


Yahh...begitulah cinta,
rumit tapi indah.
Aku berharap punya hati setegar Bu Lia dan cinta semurni beliau.
Cinta yg tak lekang oleh waktu,,

Jumat, 30 September 2011

Tragedi Cinta

Selvi memandang dari jendela kamar dan melamun berharap pelangi muncul setelah hujan lebat. Dari arah jendela Selvi melihat seorang pria berteduh di depan rumahnya. Ia masih memperhatikan pria itu dengan sebuah tas gitar yang ia lindungi lebih berharga darinya. Akhirnya hatinya ibah dan keluar dari rumah dengan sebuah payung. Ia mendekati pria itu dan membuka pintu gerbang. “Masuk yuk, daripada kehujanan.” tawar Selvi. “Yakin ga’ papa!!” ujar pria itu sopan. “Serius. Di rumah ini aku tinggal sendiri. Ayo!!!”. Pria itu memarkirkan motornya di halaman rumah Selvi yang sederhana. Kemudian Selvi mengajaknya duduk teras rumahnya. Selvi mengambilkan sebuah handuk kering untuk mengeringkan sisa-sisa hujan untuk pria itu..
 Namun pria itu lebih memilih membersihkan gitarnya daripada dirinya. Selvi hanya tersenyum memperhatikan tingkah pria berkulit putih dan bermata sipit tersebut. “Kok gitarnya dulu yang di keringkan. Bukannya kamu??” “Iya ga’ papa. Ini nyawa pertamaku. Jadi penting juga!” “Emang gitar itu buat apa??” “Saya Thomas. Saya seorang gitaris band amatiran namanya Superband.” “Wah pantesan. Dengar-dengar seorang pemusik menganggap alat musik sebagai nyawanya. Aku pikir tadinya cuma rumor dan ternyata benar!” “Hehe. Gitulah. .. Emang kamu bisa main alat musik juga?” “Hm..” Selvi terdiam menatap gitar pria tersebut. “Sedikit bisa main piano, dulu sempat les tapi sekarang udah bodoh kali, tapi kalau gitar emang ga’ bisa. Pengen belajar tapi ga’ ada waktu, sibuk untuk kuliah.” “Oo gitu… Emangnya kamu kuliah dimana?” “STIKOM dekat sini. Bukan asli dari kota ini. Rumah ini kontrak, Jangan heran kalau aku tinggal sendiri di rumah ini!” “Hahaha,, gitu…!”
Selvi menawarkan secangkir teh hangat kepada pria itu. Thomas tersanjung dengan kebaikan gadis itu. Hujan mulai reda. Thomas segera ke café tempat ia bekerja dan pamit kepada Selvi. Selvi senang berkenalan dengan pria itu. “Terima kasih tempat buat aku berteduh, jasa kamu pasti aku balas kelak” “Idih… Pemusik emang romantis kata-katanya. Hmm… bagaimana kalau kamu ajarin aku main gitar!!” “Benar… dengan senang hati aku mau ajarin kamu. Kalau aku sempat pasti aku ajarin kamu.” “Baiklah kalau begitu!”. Perkenalan itu menjadi awal kedekatan mereka.

Thomas benar-benar menemui Selvi untuk mengajarkan Selvi bermain gitar dari nol hingga mulai menarik petikan nada dari gitar klasik yang dipinjamkan oleh Thomas. Selvi mulai menyukai musik sejak itu. Ia selalu menantikan guru les gitar barunya tersebut setiap kesempatan waktu yang ada. Setelah latihan beberapa kali, Thomas juga melihat sebuah potensi besar dari suara yang dimiliki oleh Selvi. Kebetulan vocalis di bandnya memutuskan mundur untuk mencari peluang kerja yang lebih baik. Selvi sempat ragu. Namun karena dorongan yang diberikan Thomas membuat ia berani menyatakan dirinya bersedia. Ternyata, pilihan Thomas kepada Selvi tidak salah. Band mereka mulai banyak menarik minat café-café untuk memberikan porsi konser kepada mereka.

Selvi mulai giat menjadi vocalis dan membuat kuliahnya terbengkalai. Ada hal lain yang ia sembunyikan dalam kebersamaan bandnya. Ia mulai jatuh cinta pada Thomas. Namun Thomas selalu menegaskan kepada seluruh tim untuk menggapai cita-cita mereka dahulu menjadi band sukses ketimpang mengurusi urusan pribadi mereka termasuk cinta. Kebesaran nama band mereka belum cukup untuk membuat band tersebut masuk dalam dapur rekaman. Beberapa kali di tolak oleh pengusaha rekaman da membuat Thomas putus asa. Disaat itulah Selvi selalu memberi dorongan. Cinta antara mereka tak dapat disembunyikan. Sejak itu mereka menjadi sepasang kekasih. Seiring mimpi mereka menjadi band sukses, diikuti kisah cinta mereka yang begitu indah. Mereka mengubah nama bandnya menjadi APPLE. Dengan tambahan dua orang yang awalnya hanya bertiga. Kini mereka berjumlah lima orang termasuk Selvi, Thomas, Gerry, Nita dan Hendra. Dua anggota baru adalah dua bersaudara Nita dan Hendra yang mempunyai kemampuan biola (Nita) dan piano (Hendra). Mereka menginginkan band mereka sukses dan saat itu juga ada audisi konser di kota mereka.

Gerry dan Thomas adalah sahabat dekat yang selalu bersama sejak kecil. Namun Gerry memiliki kebiasaan buruk sehingga memiliki beberapa musuh yang selalu datang untuk mengajaknya berkelahi. Ketika itu Gerri berdebat dengan salah satu anggota band yang terlihat iri dengan kesuksesan band Apple.

Selvi mulai mahir menciptakan lagu dengan gitar. Ia mulai sering bolos kuliah. Ia rela melakukan semua itu demi cita-cita dan mimpinya bersama sang kekasih. Hubungan mereka begitu dekat dan sulit untuk dipisahkan.

Band merekan tiba untuk melakukan audisi dan lolos ke final yang bersaing dengan band yang saat itu membuat keributan dengan Gerry. Mereka telah siap di hari final dan saat itu Selvi sedang ujian di kuliahnya. Ia memutuskan berangkat sendiri dengan taksi menuju tempat audisi setelah ujian usai. Sedangkan Thomas dan Gerry pergi bersama begitu juga Nita dan Hendra. Sesampai disana Selvi, Nita dan Hendra menunggu Thomas dan Gerry. Sedangkan band mereka sebentar lagi audisi. Selvi menghubungi Thomas dan Gerry namun tak dapat di hubungi. Mereka mulai cemas dan akhirnya Gerri menghubungi Selvi. Gerry mengatakan kalau mereka ada suatu urusan dan menyuruh Selvi untuk melakukan audisinya bertiga. Sekarang mereka bertiga berjuang untuk band mereka.

Audisi berakhir dan Selvi membawa keberhasilan. Selvi menghubungi Gerry. “Gerry, kita juara. Kita bisa jadi band dapur rekaman.” “Selamat ya. Sel, Thomas kritis. Dia dirawat di rumah sakit. Ayo, cepatan ke sini.” “Kamu ga’ bercandakan Ger?” “Ngga’, cepatan kesini.” Selvi mulai cemas dan gelisah. Sesampai di rumah sakit ia menemui Gerry dengan luka di kepalanya. Di UGD dia melihat Thomas terbaring dengan alat bantu pernafasan. Ia menerobos ruang itu dan berteriak keras. Suster dan dokter memisahkan gadis itu. Selvi bertanya kepada Gerry. “Kenapa bisa begini?” “Maafkan aku Sel. Ini salah aku. Andai aku tidak buat keributan, dia tak akan seperti ini. Dia tertusuk pisau saat dia menolong aku dari perkelahian itu.” Kemudian dokter keluar dari ruang UGD dan mengatakan pasien telah meninggal. Selvi menerobos pintu UGD dan berteriak sekeras-kerasnya. “Thom, jangan tinggalkan aku.”

Cinta mereka berakhir sebagai kenangan. Selvi tak bisa melupakan kenangan mereka berdua. Ia melihat gitar yang diberikan Thomas sebagai bagian hidup Thomas yang tersisa. Selvi memetik gitar dan akhirnya menciptakan sebuah lagu yang indah. Kemudian Selvi mempunyai semangat untuk bernyanyi. Saat itu band mereka menyanyikan lagu yang dibuat Selvi. Selvi mulai membuka kata-kata terakhirnya, “Lagu ini aku persembahkan untuk orang yang ku cintai yang telah pergi untuk selamanya.” Seorang pengusaha jatuh cinta pada lagu itu dan membuat band mereka sukses. Usai konser Selvi pulang karena kelelahan. Saat teman-temannya datang ke rumah Selvi mereka menemui Selvi dengan tetesan darah dan selembar lirik lagu untuk persembahan terakhir hidupnya. Lagu tersebut kemudian sukses dan menyisakan pilu yang amat dalam.

Selasa, 20 September 2011

S T A R S S E C R E T

"Berhenti menangis, dan tetap tersenyum" Itu satu kalimat yang terus Fairy ucapkan saat ini. Hanya satu kalimat itu yang bisa tenangin Fey saat dia lagi nge-down. Pas lagi berantem sama Stefan, temennya, sahabat, ortu, dan yang lain.. Malem ini Fey nangis..
"RILEEKS" Fey menghirup nafasnya dalam dalam secara perlahan yang sedikit terisak ditangisnya. Kemudian, Fey mengambil tas nya dan keluar.. Seperti biasa.. Fey pergi kerumah Kevin, teman curhatnya yang selalu setia mendengarkan isi hati Fey satt sedih, saat  dalam kondisi seperti ini.. Satu satunya orang yang bisa mengerti dia.. Fey masuk ke paviliun rumah Kevin, tentu masih dengan mata sembab mendung merah... Kebetulan, Kevin ada di paviliun sambil bermain plastationnya..
"Keivv" Rengek Fey sahat melihat Kevin yang serius dengan game nya.
"Apa?" Jawab Kevin tanpa menatap Fairy dan masih sibuk dengan pandangan yang tetap tertuju pada plastation..
"Keviinn ! Dengerin gue !" Fey sedikit berteriak agar Kevin memfokuskan perhatiaannya pada Fey. Kevin menatap Fairy.. Ia terkejut melihat wajah fey yang seperti kepiting rebus merah dengan mata berlinang air.. Ia pun meninggalkan gamesnya tanpa meng-pause..
"Lo kenapa?" Seru Kevin terkejut ketika melihat sahabatnya itu yang ternyata benar benar menangis..
"vinn ! gue putus.. gue gakyakin gue bisa move on" rengek Fey sambil menangis
"hah lo putus ? kenapa lagi ? nih kan.. gue udah berkali kali fey bilang sama elo. Adek kelas lo itu gak serius sama lo dan dia cuma mainin lo.."
"Tapi vin, elo gangerti .. kata katanya pas gue sama dia baru jadian.. itu ngeyakinin banget.. apalagi pas gue lagi sama dia. Dia kaya ngehargain gue banget.. Dia perhatian, so sweet, dan gue yakin dia itu sebenernya sayang banget sama gue"
"Kaya gitu ? lo bilang sayang ? coba deh lo inget inget lagi.. saat dia jutekin lo, caper sama temen temen lo... Perhatiannya itu cuma sejenak Fey.. Bukannya dia sering ngebuat lo nangis?"

Fey terdiam , membayangkan, dengan semakin menderas jatuhan airmatanya

"Elo bener sih , Vin... Dia selalu jutekin gue dihadepan temen temennya. Dia jarang ngertiin gue kalo gue ada apa apa . Cuma pas ketemu dan pas berdua aja dia sok sok perhatian sama gue." Fey semakin menyedak ditangisnya.. Wajahnya semakin memelas dan memerah.
"Emang lo kenapa putus?"
"Alasan dia karena gue sering nyakitin dia. Emang sih , gue tuh nyebelin , gue tuh gabisa ngertiin dia, saat dia marah , ngambek, gue gakbisa nenangin emosi dia.. Gue lebih sedih lagi Vin, karena dia udah suka sama cewek lain.. Gue gatau sih siapa pastinya si cewek itu.. Tapi kata Stefan , gue kenal sama cewek yang lagi disukai sama dia tuh."
Kevin memeluk Fairy.. Itu sudah wajar.. Mereka sahabat baik dari kecil . Saat Fey sedih, Fey selalu dateng ke paviliun Kevin, dan Kevin selalu bisa nenangin Fey. Mereka cocok sebenernya kalo pacaran. Tapi, faktanya mereka hanya sebatas sahabat.

"Eh, Fairy... Kok tante gaktau kalo Fey dateng.." Tiba tiba mama Kevin masuk.
"Eh, maaf tante" Fey melepaskan pelukan dari Kevin dan ia menghapus airmatanya.
"Nah, itu kenapa ? kok nangis ? Kevin ngapain kamu?"
"Ohh.. nggak kok tante.. Kevin gakngapa ngapain fairy . Fey cuma curhat aja ke Kevin"
"Ohh.. yaudah jangan nangis atuh.. JElek mah kalo nangis. Yauwes , tante mau nyiapin makan malem dulu. 15 menit lagi yturun yah.. makan malem bareng. "  Mama Kevin pergi dari paviliun.

"Thanks yah vin... Itung itung curhat sama elo gue udah rada mendingan.. Thanks banget yah"
"udah gausa mendramatisir... Bias aaja Fey.. Gausa lebay.. Gue kan baik.. Nah lo yah kalo ada apa apa langsung aja kesini. Gue siap nampung airmata lo"
"ihh apaan sih .. lo tuh yang lebay" Jawab fey :) Fey tersenyum menatap Kevin ..
"nape ? jatuh cinta lo sama gue ? sori lo bukan tipe gue ."
"ihh ogah dah mending gue jatuh cinta sama tembok dari pada harus sama elo"

Semua diam, lalu mereka tertawa bersamaan. :D

Beberapa saat kemudian Fey pulang.. Ia langsung pergi kekamarnya... Seperti biasa.. Ia selalu mengutarakan dan menulis ceritanya dibuku putih kesayangannya..


"30-08-11
Dear..Diary...
Gue gak tau apa yang gue rasain sekarang..
Down..Shock...Dan ancur !  Semua ada diotak gue... Gue putus.. Sama orang yang ternyata cuma mainin perasaan gue.. While, gue udah sayang banget sama dia.. BAKAL HARD TO MOVE ON .. GUE BINGUNG.. Meskipun Kevin yang uda nenangin perasaan gue.. Tapi hati gue masih nyesek... "

Fey masih menangis .. Matanya yang sembab terlihat ketika ia berkaca .. Fey melihat diluar jendela kamar. Sudah gelap, sepi, fey melamun mengenang semua memeorinya bersama Stefan sampai akhirnya ia tertidur..

Okay ! Pagi pertama tanpa Stefan .. Fey pergi kesekolah.. Tanpa dijemput Stefan seperti biasanya pastinya..
"Mau tumpangan?" Fey terkejut ketika Kevin sudah ada didepan rumahnya menawari Fey tumpangan untuk pergi kesekolah..
"lo serius Vin?"  jawab Fey dengan lemas dan mata panda gara gara insiden kemarin..
"Lo mau kagak ? Buruan sebelum gue berubah pikiran nih.."
"haha iyaa iya thanks yah" Fey menaiki sepeda Kevin, lalu mereka berangkat.

Dan akhirnya Fey dan Kevin sampai disekolah...
"Ecciieeee .. Kalian jadian ?" Tanya clara, teman baik Fey ketika melihat Fey dan Kevin boncengan saat memasuki gerbang sekolah...
Fey dan Kevin hanya bengong bingung menjawab pertanyaan aneh clara.
"nah lo ? malah bengong ? Cepet banget yah Fey elu dapet pengganti si Stefan" kata clara si aneh lagi dengan nada nada tidak mengenakkan -_-
"hah?" Fey hanya bisa menjawab sepatah kata "hah" karna Fey pun tak mengerti apa yang si aneh clara katakan.
"gue gakjadian kok sama Fairy" jawab kevin dengan nada keren selayaknya cowok gentle.

*Kevin termasuk tergolong cowok populer di sekolah. Dia tinggi, putih, keren, kapten basket lagi. Sebenernya clara suka sama Kevin, dan sejujurnya si aneh clara jealous dengan kedeketan Kevin sama Fairy meskipun mereka berdua sebenernya hanya sahabat.
"ohh syukur deh" jawab clara sinis, dan kemudian langsung meninggalkan Kevin dan Fairy.

"tuh anak kenapa sih yah?" tanya Fey ketika melihat Kevin menatapnya tajam.
Kevin mengangkat bahunya. Dan kemudian mereka masuk kekelas.

-----------------------------------------------
"Vin, gue boleh kan duduk sebangku sama lo?"
"Ohh okay.. Boleh kok" Dan kemudian Fey duduk disebelah Kevin dengan ragu ragu dan dengan perasaan tak yakin.
"Clara gak marah nih. Seharusnya kan dia yang duduk disini?" Tanya Fey lagi.
"Gue nanti yang bakalan bilang ke Clara. Lo tenang aja"
------
Beberapa saat tak lama kemudian, Clara datang dan melihat ke arah tempat duduknya yang diduduki Fairy.
"Sori, ini kan tempat gue?"  Kata Clara dengan nada sedikit tinggi. Fey melihat kearah Kevin. Demikian Kevin yang melihat kearah Fey.. Mata mereka saling bertatapan. Dan kemudian dikagetkan dengan suara sentak Clara.
"Woyy ! Fey ! Aneh banget sih elo, ini tempat gue Fey.. Dan gue udah lama duduk disini sama Kevin"
"Emm, sori Clar.. hari ini gue pengen duduk sama Fey dulu. Lo bisa kan ngalah buat hari ini?" Omong Kevin lembut pada Clara tetapi masih saja dengan nada cueknya. Wajah Clara menjadi merah dan bibirnya manyun semanyun mungkin. Dia makin curiga dengan hubungan Fey sahabatnya itu dengan seorang cowok keren yang disukainya, yaitu Kevin..
"ADA APA SIH MEREKAAAA" batin Clara dalam hati dan tentu saja dengan perasaan yang panasss..
-----------------------------
Pelajaran pertama. Pelajaran paling membosankan didunia. M A T E M A T I K A .
Mungkin hanya bagi ku dan Fairy.....
Semua murid  memperhatikan guru matematika yang tampaknya sedang memberi penjelasan tentang berbagai macam materi. Tak terkecuali Kevin dan Clara yang sangat sangat konsentrasi memperhatikan guru itu. Sementara Fey hanya diam dengan wajahnya yang pucat. Entah kenapa ia merasa sangat lemas dan ia takbisa konsentrasi karena memikirkan seseorang yang sudah membuatnya sedih menangis down seperti orang gila kemarin malam. Ia menghembuskan nafasnya panjang dan rileeks. Sekali lagi ia mencoba berkonsentrasi memperhatikan, namun, tetap saja, GAGAL.
Kevin melihat Fairy yang tampaknya sedikit aneh.
"Lo kenapa, Fey?" Tanya Kevin..
nya diam tanpa kata mengetahui reaksi Kevin yang memang sangat perhatian padanya. Sementara dengan Clara yang telah melihat Kevin dan Fairy dari belakang bangku .. Ia semakin yakin jika memang Fairy dan Kevin tengah menjalani hubungan khusus yang tak ingin diketahui oleh orang lain... Rasanya Clara panas dan ingin membunuh Fairy.. Bukannya selama ini Fairy yang selalu nyomblangin dia dengan Kevin ? Tapi kenapa sekarang malah dia yang jadian sama Kevin ? Tak sabar Clara bertanya pada Fairy dengan nada menghakimi suatu saat nanti. Hanya tinggal menunggu waktu yang tepat untuk membicarakannya sehingga nantinya Fairy mau jujur kepadanya..

Kevin masih menggenggam erat tangan Fairy.. Fairy yang tadinya merasa seperti galau kini menjadi tenang karena kehangatan yang telah Kevin berikan. Ia memandang Kevin, matanya berkaca kaca.. Begitu baik dan perhatiannya Kevin pada nya .. Kevin melihat Fairy, makin digenggam erat tangan Fairy.. Fairy merasakan sesuatu... Getaran,, yang pernah ia rasakan dulu saat Stefan melihat matanya...

"OH noo ! gue gaboleh jatuh cinta sama Kevin.. Dia sahabat gue semenjak gue kecil.. Dan faktanya sahabat gue , Clara juga suka sama Kevin.. Gue gaboleh ngehianatin Clara, sahabat gue sendiri."  Batin Fairy berkata pada hatinya.. Ia perlahan menghindari tatapan Kevin, dan melepaskan genggaman Kevin . Perlahan hatinya berkata pada perasaannya "Gue gaboleh jatuh cinta"
Kevin hanya heran melihat tingkah sahabatnya itu . Namun, ia sadar, bahwa mungkin apa yang ia lakukan membuat Fairy tersinggung . Kevin tersenyum :) sekali lagi senyuman dan tatapannya membuat hati Fairy bergetar... Ia harus melawan perasaannya . Ia tidak boleh menganggap perhatian Kevin terlalu serius padanya... TIDAK BOLEH !

Jumat, 19 Agustus 2011

Hard To Say Love (Cerpen)

Aku menutup buku harianku.Buku putih yang kubuat sendiri dengan inisial namaku dan namanya di cover depan.Buku tempat ku menceritakan semua dan mengungkapkan curahan perasaan terdalam.Buku yang didalamnya juga kutulis cerita imajinasi belakaku.Tentang cerita cinta peri kecil.Kisahnya pun kubuat hampir sama dengan kisah seharianku.Hanya endingnya yang kubuat berbeda.Saat peri kecil harus kehilangan seseorang yang dicintainya.Ia hanya bisa menangis merelakan seseorang berharga itu pergi dan tak akan kembali, tak mungkin akan kembali.Hembusan angin ditempat ku duduk mulai terasa.Sejuk, melambungkan angan..Kuhirup perlahan, dan membayangkan sesuatu..Disini , ditaman sekolah aku biasanya menemukan berbagai cerita.Taman ini imajinasi aku.Saat itu ada 2 ekor semut.Semut yang satunya meninggal, dan satunya masih hidup.Aku tak tau apa yang mereka rasakan.Jika aku menjadi semut yang masih hidup tadi, aku pasti akan merasa kehilangan dan sendiri.
”hey .. ngapain?” seseorang mengagetkanku dari belakang.Aku menoleh kebelakang.Itu Ryan.Selain taman, cowok ini juga inspirasiku.Aku mengaguminya dari pertama kali kita jumpa.Dia baik, keren lagi.
”hey..Ryan!Ngapain disini?”Tanyaku padanya.
”yahh, ditanya malah balik nanya” jawab Ryan..Aku hanya tertawa.
”ngapain kamu?”tambahku.
”tadi, aku lihat kamu disini, pengen aja nyamperin.Tempat ini bagus”
”ini salah satu tempat kesukaan aku”
”hmm..pantesan tiap kali istirahat, kamu gak ada dikelas.Ternyata menyendiri disini”
”enak aja, aku gak menyendiri tau..Cuma pingin bebasin diri dari keramaian dikelas”
”yeeee...sama aja lagi”

”KRINGGG”
”eh, bel tuh , kekelas yuk ?” ajakku.
”yahh, udah bel yah?Bentar banget istirahatnya.Jadi gabisa lama lama an deh sama kamu” celetuk Ryan
”hiyaaa....udahlah..yuk”
”iya udah deh”
    Aku segera masuk kelas.Sementara dikelas sudah ada guru fisika yang super banget nyebelin..
”maaf bu , saya telat” kataku dengan wajah menunduk
”sana duduk !” dengan cuek dan juteknya guru itu menyuruh ku duduk tanpa menatap wajahku.
    Aku duduk dengan wajah memerah.Semua teman teman melihatku dengan anehnya, mungkin karena aku sering terlambat saat pelajaran sehabis istirahat.
”darimana lagi kamu Fey?”Tanya Dini, sahabat aku yang duduk disebelah ku
”dari surga” jawabku sambil membayangkan tadi ditaman bersama Ryan.
”kamu bercanda?” tanya Dini lagi tak percaya.
”serius..Tadi aku isurga sama Ryan”
”idiihhh ! labil !” ejek Dini padaku
”ehh, dibilangin kok . Tempat apapun bisa jadi surga saat aku bersama Ryan.hihihihi !” jawabku lagi.
    Jam kedua..Masih pelajaran fisika. Aku sedikit bingung dengan apa yang disampaikan guru itu. Tidak sedikit sebenarnya. Aku benar benar tak tau dan tidak mengerti apa maksud dari pelajaran ini. Fisika dan Matematika adalah kelemahanku.
”eh eh, lihat tuh..si Ryan !” kata Andin sambil melihat keluar
”mana?”
”itu diluar !”
Ryan melihatku dan melambaikan tangannya.Aku membalas dengan senyuman.

”FAIRY ! NGAPAIN SENYUM SENYUM !” Bentak guru fisika itu saat menatapku.Oh God! Musibah! Aku hanya diam dan menundukan wajah. Rupanya guru itu melihat keluar.. Ryan ingin berlari rasanya saat guru itu melihatnya.Namun ia terasa tak bisa berlari menghindar. Dan akhirnya kita ketauan.
”FEY ! RYAN ! Berdiri di depan tiang bendera sampai bel pulang berbunyi !” Bentaknya lagi. Benar benar musibah ! Aku keluar kelas dan melihat jam ditangan. Syukur deh , jam 12.50 ! 10 menit lagi bel pulang dikumandangkan -_- paling nggak , aku dan Ryan tak perlu berlama lama dibawah tiang bendera.
”kamu sih , ngapain pake lewat kelas aku !” kataku pelan pada Ryan yang berdiri ditiang bendera , tepatnya disebelah aku berdiri juga.
”maaf deh maaf. Aku kan kangen sama kamu . Jadi gakpapa dong nengok kekelas kamu.” Gombal Ryan sambil bercanda padaku
”idiiihh.. Bercanda mulu ih”  Kataku dengan sedikit nge-fly
”ini mah serius atuh neng” Jawabnya dengan logat daerah asalnya.
”yaelah akang teh jangan bercanda mulu,,Nge gombal aja ih”
”hahaha..oke deh..by the way..nanti malam ada waktu?”
“emmm...ada...kenapa?”
“aku kerumahmu yah?”
”ohh iya, silahkan .. Tapi, dalam rangka apa nih kerumah ? Kalo kerumah Cuma buat minta makan , maaf deh yah , dirumah gaada apa apa.” kataku sambil iseng bercanda.
”kalo gaada makan, minum boleh deh yah yah ?” kata Ryan memelas.

"udahlah Ryan.. Gausa bercanda deh " kataku
"nah lo? siapa duluan yang bercanda..Kamu yang mulai kann" Ryan menjawab dengan mencubit pipiku. Oh god ! FLY !
"apaan sih.." kataku agak sedikit menunduk.. Yaelah.. Aku cuma digituin aja udah nge fly.. ckckck andaikan saja Ryan tau gimana perasaanku  .
"TEEEEET" yeeee... pulaaaang ! gak terasa bentar banget disini . Berjemur dibawah tiang bendera. padahal pengen lama lama sama Ryan
"eh bel tuh . pulang yuk ?" kata Ryan mengagetkan lamunanku.
"ehh iya, udah bel yah.. Cepet bel nya..hihi"Kataku sedikit #lola
"pulang bareng yuk?" ajak Ryan..
"mmm.. Gimana yah.. mm Iya deh, ambil tas dulu yah" jawabku. uhh ! salting nya kumat . Lola nya juga kumat. Telminya apalagi.

yeee ! pulang bareng Ryan. Seneng banget. Digonceng Ryan. Haha.. salting senyum senyum sendiri. hahaa..
"jalan jalan dulu yah? Males ni di rumah" ajak Ryan
"mm.. iya deh .. Kemana? " Jawabku
"Aku pingin ngajak kamu kesuatu tempat"
"Kemana?"
"udah ngikut aja"
"yaasudaaalahhh" jawabku pasrah

Ryan membawaku ketempat aneh. Dibilang rumah bukan, dibilang gedung juga bukan.
"naik ke atas yuk?" ajak Ryan
Aku tersenyum. Tempat ini kaya aku pernah datengin. Persis kaya di mimpi. Seperti apa yang aku bayangin pas ngebuat cerita si peri kecil. Tempatnya aneh, tapi nyenengin. Sepi, kaya rumah bekas. Tapi bukan. Banyak dedaunan. Tapi indah dan bagus. Tak ada kotornya sama sekali. Aku terus berjalan dan merasakan perasaan aneh. Sampai pada akhirnya, aku dan Ryan sampai di atas gedung.
"ini rumah peninggalan alm mama aku" Ryan menceritakannya.
"Dulu, aku sering sama mama ketempat ini. Tempat yang aku datengin saat aku dan mama ada masalah sama papa. Papa memang jahat sama aku. Juga sama mama. Sampai sekarang. Sampai mama meninggal. Papa gaktau kalo aku sama mama punya rumah rahasia disini. Sekarang aku jarang ketempat ini. Aku pernah berjanji, bakal ngajak seseorang yang penting dihidup aku ketempat ini. Selain mama, ada satu orang yang juga penting buat aku."
Aku melamun. Aku bahkan tak tau maksudnya. Aku hanya diam, dan sekali menatapnya sambil tersenyum. Aku mengamati tempat ini. Demikian dengan Ryan.
"Tempatnya bagus" tambahku
"Lebih bagus dulu saat aku dan mama sering merawatnya. Saat mama masih ada"
Aku menatap mata Ryan. Sepertinya Ryan sangat merasa kehilangan. Ryan tersenyum.
"ini sudah takdir. Tuhan mengambil mama agar mama bisa tenang disana dan tidak merasakan siksaan kejam dari papa" tambah Ryan.
Angin berhembus ditempat dimana aku dan Ryan berada. Di puncak atas rumah ini. Rumahnya tinggi. Aku pun bisa melihat pemandangan indah darisini. Rumah ini dikelilingi kebun yang luas. Tak sepadat rumah rumah biasanya. Pemandangannya indah seperti dunia peri. Dunia fairy.
"sudahlah.. Dari tadi bawaannya mellow terus" kata Ryan.
Aku hanya bisa tersenyum. Benar benar mirip seperti imajinasiku di cerita peri kecil.
"tempat ini persis kaya diimajinasi ku .. Di cerita yang aku buat" Kataku pada Ryan.
"mungkin tidak kesengajaan. Cerita apa?"
"tentang peri kecil.."
"kau suka menulis?"
Aku mengangguk..
"Kau mengingatkanku pada mama.. Mama juga suka menulis" Ryan beranjak masuk kedalam.. Kesuatu ruangan. Aku mengikutinya.. Keruangan yang aneh. Berdominan warna putih dan hijau kusam.. Ryan mengambil suatu buku.. Buku kusam warna biru..
"ini cerita buatan mama.. tentang peri juga.. peri yang mencari cinta sejatinya.."
Aku membacanya. Kuhanya membaca sedikit awalan, dan sangat menyentuh. Bahasa yang penuh makna .. Aku merasakan sesuatu.Aku merinding.. Aneh.. Kemudian ku menutup buku itu ..
"Ryan, aku pingin pulang" Aku berkata pada Ryan sedikit deg deg an. aku benar benar merasa aneh. Aku merasakan sesuatu yang mungkin Ryan tak merasakannya.
"Baiklah.. Aku antar kamu pulang yah?"
Aku mengangguk. Sedikit merasa lebih baik saat keluar dari rumah itu. Sebelum pulang, aku menatap rumah itu dalam dalam. Aku tak menyangka rumah ini persis seperti rumah yang kuimajinasikan. Aku tak menyangka. Benar benar persis.

"Kau merasakan sesuatu yang aneh?" Ryan berkata padaku. Aku mengangguk heran.
"Aku juga" Kata Ryan lagi
"Maksudmu?"
"Aku tak pernah merasakan sesuatu yang aneh ditempat itu saat aku dulu bersama mama. Aku merasa sedikit berbeda sekarang"
Aku menatap Ryan dalam dalam dengan mata tajam. Akupun tak tau apa maksunya..
"Sudahlah lupakan"!  Seru Ryan
Aku mulai mengerti apa yang dirasakannya, mungkin ia merasa persis sepertiku, merinding, aneh, dan sedikit merasa takut. Mungkinn..


Aku sampai dirumah setelah Ryan mengantarku pulang.. Aku langsung menuju kekamar. Dibenakku masih terbayang tulisan itu. Tulisan cerita mama Ryan. Kenapa tulisan itu seperti kukenal.. Misterius, aku tak dapat mempercayai kejadian aneh siang tadi.. OH GOD ! aku takutt.. Rasa takut itu semakin meluas dalam pikiranku. Sampai akhirnya aku tertidur..

"KRINGGG" jam kembali berbunyi. DONE. Hari ini hari libur. Mmmmm.. ngapain yah.. galau haha.. Aku membuka handphone...
SMS dari Ryan.
"Lo ada acara ?"
"Hari ini?"
"Gak taun depan.."
"Kalo tahun depan sih gatau"
"Eh gue serius.. lola nih anak ya , elo jam 8 sibuk?"
"ehh gue dikatain lola -_- aib tau... mmm.. gaada .. kenapa ?"
"gue jemput elo jam 8"
"hari ini?"
"kan gue uda bilang taun depan"
"ihh elo.. lo bikin gue pusing deh lama lama.. hari ini ato taun depan sih?"
"yaelaahhh.. pasti elo barusan bangun yah?"
"iya.. emang kenapa?"
"pantesan otak elo masih rada ngelindur gitu"
"ehhh ni anak nyebelinnyaaa..."
"hahaha yadeh yadehh.. hari ini yah?"
"ngapain?"
"mending lo baca sms yang barusan barusan deh.. Baca dari awal biar elo ngerti
"maksudnya.."
"Capek gue jelasin keelo"

5minutes after

"hihi,, udah tau maksudnya"
"alhamdzulillah yah -_- lola lo sembuh.."
"jam 8 kan ?"
"yapp"
"okay gue siap siap dulu"
"(y)"

Udara masih dingin....Mentari  baru saja menampakkan cahaya hangatnya... Bintang sudah tiada.. Bulan pun tak terlihat lagi.. Hanya mentari dan awan putih.. Aku duduk ditaman belakang rumah sambil menunggu Ryan datang menjemput.. Aku membuka buku harian.. Kubaca sekilas cerita tentang peri itu... Dan terlintas bayang bayang buku yang telah dicoret coret oleh alm.ibu Ryan.. Angin berhembus... Semakin dingin udara di pagi ini .
"srr" seseorang memakaikan aku jaketnya dari belakang... Aku menengok,, Kulihat Ryan dengan senyuman hangatnya..
"RYAN?"
Ryan tersenyumm...
"kok loh ? lewat mana?" aku masih kebingungan melihat Ryan yang tiba tiba berada di belakangku..
"Pintu rumah elo kebuka"
"Hah? sejak kapan ? dirumah ini cuma gue.. Seinget gue kemaren pintu gue kunci"
Ryan mengangkat bahunya.. Aku melihat jam..
"Ini masih jam enam ... Elo kok uda dateng"
Ryan hanya tersenyumm ..
"Udahlah.. Bisa berangkat sekarang?"
Aku mengangguk.

Ryan membawa ku ke suatu tempat lagi. Surprise. Ke danau. Agak jauh sih, tapi suer disini keren banget.. Sejukk... Udaranya segar dan airnya kelihatan sangat jernih. Aku tak melihat satupun orang kecuali aku dan dia...
"gimana ? indah kan pemandangannya?" Kata Ryan.
Aku mengangguk :) memang indah, dengan tambahan pemandangan pegunungannya disini. Ini tak terlihat seperti desa. Mungkin ini salah satu keajaiban tuhan. Aku tak menyangka disini terdapat tempat sebagus ini.. Pohon pohon yang berguguran daunnya.. Bunga bunga yang masih terlihat layu namun menyejukkan.. Air yang tenang, suara burung berkicau.. Dan tebing tebing yang menantang..
"aku suka tempat ini" kataku sambil melihat wajah Ryan. Ryan tersenyum memandangku. Tatapan tajamnya.. Aku suka itu... Ketika ia melihatku... Membuatku merasa dunia ini seakan berhenti saat melihat senyumannya. Membuat jantungku berdetak kencang. Tak ingin rasanya aku kehilangan senyuman hangat itu. Aku membalas senyumannya.
"kau pernah merasakan perasaan aneh?" kata Ryan.
"hah?" aku masih bingung menjawab apa. Mulutku rasanya tak bisa mengucap.
Ryan tersenyum ..
"Saat dunia serasa berhenti, dan jantungmu berdetak kencang dan kau tak bisa menghentikannya, saat perasaanmu ingin terbang, saat matamu sulit tuk terpejam saat kau bersama seseorang, dan saat perasaan hangat muncul ketika kau melihat seseorang ?" tambah Ryan.
"aa.. aku.." aku masih tak bisa membalas omongannya. Aku bingung dan tentu saja aku guggup.
"Aku merasakannya... Saat ini.. Saat bersamamu.. " Ryan melanjutkan omongannya lagi. Aku terkejut.. Akankah Ryan menyatakan perasaannya padaku ? Akankah aku bisa merespons nya jika memang benar ia jatuh cinta padaku ?


"aku tak tau apa maksudmu" Jawabku..
"suatu saat kau akan mengetahuinya" tambah Ryan dengan tuangan senyum manis dibibirnya . Baiklah, aku mengaku. Aku hanya pura pura tak mengerti apa maksudnya.. Aku tahu Ryan merasakan perasaan yang sama sepertiku... Entah ini hanya perasaan seorang wanita sepertiku, atau memang benar ... Bahwa dia mencintaiku......

Dingiiinn...Angin seperti berkeliling mengitari badanku...
Ditepi danau bersama Ryan... Melihat pemandangan yang seribu kali menabjubkan dari dunia mimpi... Awan nampak tersenyum melihatku bersandar dibahu Ryan.. Sementara Ryan hanya tersenyum melihatku terlelap dibahunya...
"kau mengantuk ?" tanya Ryan melihatku menutup mata... Aku menggelengkan kepala ....
"lalu ? kenapa kau tidur ?"
"aku hanya ingin memejamkan mataku sejenak disampingmu..." Jawabku singkat . Aku tak tahu mengapa mataku rasanya ingin terpejam saja saat berada disampingnya . Aku merasa nyaman...
Ryan memelukku... Hangat.... Aku menatap nya... Entah mengapa aku ingin memeluknya balik ditempat ini, tempat yang sepi yang hanya ada aku dan Ryan...

Kehangatan itu mengalahkan dinginnya udara. Burung yang ber-migrasi melambai kearah ku. Matakku dan mata Ryan saling menatap. Wajah Ryan mendekat kearahku. Aku tak tau ada sesuatu yang aneh sehingga wajahku ikut mendekat ke wajahnya . Ini perasaan yang aneh . Ia sem akin erat memelukku . Ia tersenyum , bibirnya menyentuh bibirku , semakin mendekat , dan ... INI CIUMAN PERTAMA... AKU DAN RYAN..... RYAN MENCIUMKU !